Di lingkup ini dituntut adanya kesadaran untuk bersikap lebih luwes mengingat keberagaman lebih komplek.
Kesatuan dan persatuan dapat dibangun di atas keberagaman, jika masing - masing individu rela melepaskan egonya demi kepentingan umum, kepentingan yang lebih luas lagi.
Tak hanya saling menghargai, masing- masing perlu lebih mengedepankan sikap rela berkorban untuk menyamakan persespsi. Selalu berpikir positif (husnudzon), bukan berpikir negatif ( zuhudzon) untuk menjaga keharmonisan dan keserasian dalam berbangsa dan bernegara. Itulah perilaku luhur yang perlu menjadi jati diri bangsa.
Tak ada yang bisa mencerai - berai, selama dalam diri kita masih terjalin kuat keselarasan dan keharmonisan. (*)