Menempa Perbuatan Luhur

Kamis 09 Jan 2020, 07:45 WIB

Oleh Harmoko

TAK bisa dipungkiri bahwa negeri kita dibangun atas pondasi keberagaman. Dan, heterogenitas inilah yang sejatinya menyatukan negeri kita sebagaimana tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda, tetapi tetap satu.

Maknanya kita  hendaknya menyadari adanya perbedaan. Keberagaman perlu disikapi sebagai anugerah. Suatu kondisi yang tak perlu dipertentangkan, diperdebatkan yang pada akhirnya dapat memicu gesekan.

Pemahaman bahwa perbedaan tak perlu diperdebatkan lagi, sebuah kewajiban bagi kita dalam rangka membangun bangsa dan negara ke depan.

Tak hanya dalam ucapan, juga sikap perilaku perbuatan dalam setiap saat, dari waktu  ke waktu, dari hari ke hari tiada henti, meski terdapat perubahan situasi.

Ini diperlukan sikap saling menghormati, saling menghargai. Sangat tidak bijak jika kita mengakui adanya keberagaman, tapi masih mempersoalan perbedaan. Tidak bijak jika mengakui perbedaan latar belakang, tapi masih ada "bisik-bisik" asal- usul dari kelompok mana, aliran politik mana, lebih - lebih melihatnya dari status sosial ekonominya. Jika itu yang terjadi, bukan keberagaman dalam persatuan, tetapi persatuan tanpa keragaman.

Sikap saling menghormati akan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari - hari, dapat diaplikasikan kalau ada kesadaran diri untuk mengamalkan sikap dan perbuatan luhur.

Sering dikatakan, perbuatan luhur harus dimulai dari diri sendiri, apa yang tercetus dari hati nurani. Sebab, perbuatan luhur mengandung unsur - unsur kebaikan dan kebajikan dimulai dari ucapan hingga perbuatan.

Ucapan baik berarti tidak menyinggung perasaan orang lain, ucapan yang dilandasi dengan kesopanan dan keramah tamahan. Bukan ucapan berisi cacian dan makian, apalagi mengandung "bibit unggul" penyakit segala macam.

Sebaliknya dan juga sebaiknya perbuatan luhur adalah perbuatan yang mampu menjadi cermin keteladanan, mampu mengendalikan hawa nafsu, membuang ego dan kesewenang-wenangan. Perbuatan luhur ini dapat dan pasti terlihat oleh orang yang suka meminta maaf, meski belum tentu bersalah. Mengaku bersalah demi menjaga keharmonisan, memupuk kebersamaan, dan memadu persatuan, meski tidak ada kesalahan. Berani mengalah demi kebersamaan, lebih baik ketimbang mencari pembenaran, tetapi berakibat perpecahan.

Perbuatan luhur akan terasa mudah dilakukan, akan mengalir dengan sendirinya, jika dilandasi oleh budi pekerti dan niat luhur.


News Update