Menempa Perbuatan Luhur

Kamis 09 Jan 2020, 07:45 WIB

Bicara budi pekerti berarti tak lepas dari soal akhlak. Disebut berakhlak mulia, jika perilaku baik itu dibarengi dengan upaya yang sungguh - sungguh dari dalam diri sendiri.

Perilaku baik dilakukan karena semata upaya diri untuk selalu berbuat baik, sebagai bagian dari ketataan diri terhadap norma.

Ucapan dan perbuatan dilakukan tanpa pamrih, bukan berharap imbalan, bukan juga pamer kehebatan. Perilaku baik ditunjukkan secara ikhlas.

Dan, ucapan serta perilaku baik dilakukan  terus menerus tiada henti dalam situasi seperti apa pun,  kondisi apa pun dan bagaimana pun. Sikap semacam ini sering disebut "ajeg" atau istiqomah.

Kita berharap tingkatan perbuatan luhur yang sudah melekat dalam diri  dan tertularkan ke lingkungan keluarga, masyarakat. Lebih luas lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penerapan perbuatan luhur dalam lingkup keluarga tentu berbeda dengan lingkungan sosial yang lebih luas lagi.

Tetapi pada level keluarga ini menjadi awal edukasi. Baik di keluarga akan mendorong kebaikan di lingkup masyarakat dan seterusnya.

Pada lingkup interaksi keluarga, problema yang dihadapi tak sekomplek lingkungan masyarakat. Tetapi, hubungan sesama anggota keluarga yang memerlukan sikap toleransi, saling menghargai privacy, saling memahami menjadi pondasi menanamkan akhlak mulia.

Sebab, saling memahami dan menghormati perbedaan menjadi perbuatan luhur sebagai kunci harmonisasi dalam keluarga.

Jika perbuatan luhur sudah tertanam di lingkungan keluarga, akan menjadi modal ketika bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Adaptasi akan mudah dilakukan jika sudah terbiasa dalam keharmonisan keluarga yang saling menghargai, menghormati dan saling memahami situasi.

 Satu hal yang patut mendapat pemahaman bersama adalah perlunya mengedepankan kepedulian sosial, peduli membangun ikatan sosial untuk mewujudakan lingkungan yang harmonis.

Pada tataran berikut adalah penerapan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


News Update