Oleh Harmoko
MANUSIA diciptakan untuk saling tolong menolong. Tak ada seorang pun yang dapat hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain.
Saling tolong menolong antarmanusia sebuah keniscayaan. Ini kodrat manusia sejak kelahirannya.
Sehebat apa pun dia, tetap membutuhkan orang lain. Sekaya apa pun, setinggi apa pun jabatan dan kekuasaan yang dimiliki, tetap membutuhkan bantuan orang lain.
Seorang raja, kaisar sekalipun membutuhkan bantuan orang lain, para pembantunya, stafnya, penasihatnya, lebih luas lagi rakyatnya.
Saling tolong menolong hendaknya tetap terpatri dalam diri siapa pun kita sebagai anak bangsa.
Lebih - lebih di era sekarang ini, di saat musibah banjir sedang melanda sejumlah daerah, seperti di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Di mana, puluhan ribu warga meninggalkan rumah beserta isinya, mengungsi ke tempat yang lebih aman dan nyaman.
Uluran tangan diperlukan untuk membantu masyarakat korban banjir baik di tempat pengungsian atau penampungan lainnya.
Membantu tidak harus dengan uang, melalui tenaga dan pikiran pun bisa dilakukan. Jika tidak memiliki harta, tenaga, dan pikiran, atau dengan doa pun bisa dijadikan bantuan.
Itulah sebabnya makna tolong menolong jangan selalu dikaitan dengan uang, dana dan harta benda. Bukan!
Definisi tolong menolong sendiri adalah sikap saling membantu untuk meringankan beban (penderitaan, kesulitan) orang lain dengan cara melakukan sesuatu. Dan sesuatu yang dimaksud tentu maknanya cukup luas. Memberi arah ke jalan yang benar, dapat dikatakan
"sesuatu" yang bisa meringankan kesulitan orang lain.
Agama apa pun mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa membiasakan diri saling tolong menolong.
Islam tidak sebatas menganjurkan, tetapi mewajibkan sikap saling tolong menolong. Tentu, memperkuat tolong menolong dalam kebajikan, menuju kebaikan, bukan tolong menolong mengarah ketidakbaikan, apalagi dalam pelanggaran tata apapun juga.
Sikap tolong menolong sejatinya bukan hal baru dalam masyarakat kita. Sejak dulu, kita sudah terbiasa hidup saling tolong menolong terhadap sesama, di internal keluarga maupun lingkungan masyarakat sebagaimana tercermin dalam sila kedua Pancasila.
Kita sadar betul bahwa nilai - nilai Pancasila diangkat dari kandungan Ibu Pertiwi, dari perilaku positif para pendahulu kita yang mengakar sebagai jati diri bangsa, di antaranya sikap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Lebih kongkret lagi mengajak kita gemar melakukan kegiatan kemanusiaan seperti menolong orang yang sedang menghadapi masalah.
Hendaknya kita tetap memiliki tekad kuat dan impian tinggi untuk membantu sesama, karena di lain waktu bisa saja kita yang butuh bantuan orang. Karenanya sering dikatakan ," Ketika kita menolong orang lain, sebenarnya kita sedang menolong diri kita sendiri."
Fakta yang tidak dapat dihindari adalah roda yang terus berputar. Adakalanya di atas, detik berikut di bawah. Begitu pun kehidupan tidak selalu di atas. Esok lusa, atau entah kapan, tiba saatnya kita berada di bawah dan membutuhkan bantuan orang lain.
Bahkan, ketika kita masih berada di atas sekalipun, terkadang membutuhkan bantuan orang lain untuk melengkapi kebahagiaan.
Patutlah berbahagia ketika kita dapat membantu orang lain, yang berarti kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.
Benar seperti dikatakan Nouman Ali Khan, ustadz dari Amerika Serikat dan CEO Bayyinah Institute, " Ketika Anda berada dalam posisi untuk membantu seseorang, berbahagialah! Karena Allah swt menjawab doa orang tersebut melalui Anda."
Yang masih perlu menjadi perhatian adalah, meski kita menolong orang, bukan lantas seenaknya. Menolong ada etikanya.
Yang pertama harus dilandasi dengan keikhlasan, bukan paksaan atau pamer.
Yang kedua, menolong bukan berharap imbalan. Apakah berupa uang, sanjungan atau pun pengakuan.
Yang ketiga, dengan sikap yang baik. Bukan misalnya memberikan sesuatu dengan dilempar atau dibarengi kata- kata kasar.
Yang keempat, sesuatu yang diberikan adalah yang cukup bermakna dan tepat guna.
Yang kelima, bantuan diberikan tanpa pilih kasih, tidak membeda - bedakan latar belakang.
Yang keenam, bantuan yang sudah diberikan jangan diingat - ingat, apalagi terus diungkap di setiap kesempatan.
Idealnya sikap saling tolong menolong menjadi tanggung jawab sosial yang dibentuk sejak dini. Selain dapat meringankan derita/ kesulitan orang lain, membantu orang lain bermanfaaf bagi diri sendiri, di antaranya membentuk karakter terpuji seperti mengikis sikap ego dan sombong, melatih diri dalam mengatasi masalah, meningkatkan kepekaan dan empati sosial.
Membuat hati kita lebih damai, lebih tenang dan bahagia.
Mari kembangkan sikap saling tolong menolong.
Bantulah orang yang sedang butuh bantuan. Sekecil apa pun bentuknya akan sangat bermakna. Selagi bisa, kenapa tidak! (*)