Selagi Bisa Menolong

Senin 06 Jan 2020, 06:30 WIB

Kita sadar betul bahwa nilai - nilai Pancasila diangkat dari kandungan Ibu Pertiwi, dari perilaku positif para pendahulu kita yang mengakar sebagai jati diri bangsa, di antaranya sikap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Lebih kongkret lagi mengajak kita gemar melakukan kegiatan kemanusiaan seperti menolong orang yang sedang  menghadapi masalah.

Hendaknya kita tetap memiliki tekad kuat dan impian tinggi untuk membantu sesama, karena di lain waktu bisa saja kita yang butuh bantuan orang. Karenanya sering dikatakan ," Ketika kita menolong orang lain, sebenarnya kita sedang menolong diri kita sendiri."

Fakta yang tidak dapat dihindari adalah roda yang terus berputar. Adakalanya di atas, detik berikut di bawah. Begitu pun kehidupan tidak selalu di atas. Esok lusa, atau entah kapan, tiba saatnya kita berada di bawah dan membutuhkan bantuan orang lain.

Bahkan, ketika kita masih berada di atas sekalipun, terkadang membutuhkan bantuan orang lain untuk melengkapi kebahagiaan.

Patutlah berbahagia ketika kita dapat membantu orang lain, yang berarti kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.

Benar seperti dikatakan Nouman Ali Khan, ustadz dari Amerika Serikat dan CEO Bayyinah Institute, " Ketika Anda berada dalam posisi untuk membantu seseorang, berbahagialah! Karena Allah swt menjawab doa orang tersebut melalui Anda."

Yang masih perlu menjadi perhatian adalah, meski kita menolong orang, bukan lantas seenaknya. Menolong ada etikanya.
Yang pertama harus dilandasi dengan keikhlasan, bukan paksaan atau pamer.
Yang kedua, menolong bukan berharap imbalan. Apakah berupa uang, sanjungan atau pun pengakuan.
Yang ketiga, dengan sikap yang baik. Bukan misalnya memberikan sesuatu dengan dilempar atau dibarengi kata- kata kasar.
Yang keempat, sesuatu yang diberikan adalah yang cukup bermakna dan tepat guna.
Yang kelima, bantuan diberikan tanpa pilih kasih, tidak membeda - bedakan latar belakang.
Yang keenam, bantuan yang sudah diberikan jangan diingat - ingat, apalagi terus diungkap di setiap kesempatan.

Idealnya sikap saling tolong menolong menjadi tanggung jawab sosial yang dibentuk sejak dini. Selain dapat meringankan derita/ kesulitan orang lain, membantu orang lain bermanfaaf bagi diri sendiri, di antaranya membentuk karakter terpuji seperti mengikis sikap ego dan sombong, melatih diri dalam mengatasi masalah, meningkatkan kepekaan dan empati sosial.

Membuat hati kita lebih damai, lebih tenang dan bahagia.

Mari kembangkan sikap saling tolong menolong.

Bantulah orang yang sedang butuh bantuan. Sekecil apa pun bentuknya akan sangat bermakna. Selagi bisa, kenapa tidak! (*)


News Update