Baca Juga: Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan Telah Periksa 7 Orang Saksi Kasus yang Menyeret Iwan Fals
Aksi ini mencerminkan semangat lagu Bongkar yang sesungguhnya. Semangat ini bertujuan membongkar kebusukan yang bersembunyi di balik meja dan stempel pemerintah.
Deretan Lagu Tematik tentang Kerusakan Alam
Sesuai dengan tema utama konser, lagu-lagu bertema lingkungan menjadi sajian utama. Iwan Fals tidak membawakan hits legendaris seperti Bento atau Umar Bakri. Sebaliknya, ia menyanyikan deretan lagu yang memetakan kerusakan alam sejak puluhan tahun lalu.
Pertama-tama, ia membawakan Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi yang menyoroti alih fungsi hutan dan ancaman buldoser. Selanjutnya, lagu Sampah menyuarakan masalah limbah plastik serta kaleng.
Sebab polusi kian parah, lagu Hutanku Rusak turut dihadirkan dengan lirik ikonik Langitku Bocor. Lagu ini menggambarkan udara yang tercemar dan kondisi alam yang kian memprihatinkan.
Pesan Kelestarian Hutan dan Penutup yang Syahdu
Tidak berhenti di situ, Iwan Fals membawakan Balada Orang Pedalaman untuk menyuarakan hak masyarakat adat. Lagu Esek Esek Udug Udug juga dinyanyikan guna mengkritik pencemaran sungai akibat limbah pabrik.
Selain itu, lagu Panggilan Dari Gunung rilis tahun 1995 membahana mengingatkan bahaya gunung gundul. Lagu Hijau menjadi pamungkas isu lingkungan untuk menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta polusi udara.
"Mari kita tetap menanam pohon dan menjaga kelestariannya. Hal ini penting agar masa depan Indonesia lebih hijau," ajak Iwan di sela penampilannya.
Meskipun demikian, deretan lagu kritis tersebut tidak membuat konser berakhir tegang. Iwan Fals menutup penampilannya dengan lagu cinta berjudul Nona. Lagu ini sukses mengubah suasana konser menjadi penuh kehangatan. Konser Menembus Awan Hijau pun resmi berakhir pada pukul 17.40 WIB.
