POSKOTA.CO.ID - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) makin serius mengintegrasikan prinsip keberlanjutan (ESG) dalam operasional bisnisnya. Langkah ini ditandai dengan diterimanya sertifikat keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) sekaligus peluncuran program pengelolaan sampah Zero Waste to Landfill di kawasan The Telkom Hub, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Kedua inisiatif tersebut menjadi pijakan nyata Telkom dalam menyelaraskan tata kelola perusahaan dengan standar keberlanjutan global dan target pengurangan dampak lingkungan.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar pemenuhan standar formalitas, melainkan strategi jangka panjang perusahaan.
“Di TelkomGroup, keberlanjutan adalah bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja. Keanggotaan UN Global Compact memperkuat arah kami dalam menerapkan praktik bisnis yang bertanggung jawab, sementara program Zero Waste to Landfill menjadi wujud nyatanya di lapangan,” ujar Nanang.
Baca Juga: Dukung Pencarian Mahasiswi Hilang Kontak, Telkom University Gencarkan Koordinasi
Kelola Puluhan Ton Sampah dari Sumbernya
Melalui program Zero Waste to Landfill, Telkom menggandeng Waste4Change sejak 7 Oktober 2026 untuk mengelola seluruh sampah perkantoran di The Telkom Hub. Langkah ini diterapkan agar sampah dipilah langsung dari sumbernya dan tidak lagi menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Berdasarkan data internal periode Januari–Juni 2026, volume sampah di The Telkom Hub mencapai 14,6 hingga 30,3 ton per bulan. Dari total tersebut, 51% merupakan sampah residu, 32 persen sampah organik, serta 7 persen masing-masing untuk daur ulang plastik dan kertas.
Langkah pemilahan ini juga mengacu pada regulasi daerah, termasuk Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 dan UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Chief Operating Officer Waste4Change, Ridho Malik Ibrahim, mengapresiasi komitmen Telkom yang mengalihkan alur pengelolaan sampahnya. Menurutnya, kolaborasi ini tak hanya memperbaiki sistem, tetapi juga membangun budaya baru di lingkungan kerja.
Baca Juga: Dukung Pencarian Mahasiswi Hilang Kontak, Telkom University Gencarkan Koordinasi
Sebelumnya, Telkom juga telah mengoperasikan Reverse Vending Machine (RVM) sejak Desember 2024. Fasilitas ini tercatat sukses mengumpulkan lebih dari 7 ton botol plastik dari 900 lebih pengguna, yang setara dengan menekan emisi sekitar 38 ton.
Peta Jalan Net Zero Emission
Selain pengelolaan limbah, masuknya Telkom sebagai peserta aktif UNGC sejak 16 Juli 2026 memperkuat komitmen perusahaan terhadap Sepuluh Prinsip PBB yang mencakup Hak Asasi Manusia, Ketenagakerjaan, Lingkungan, dan Antikorupsi.
Executive Director UN Global Compact Network Indonesia, Dr. M. Windrawan Inantha, menilai langkah Telkom dapat menjadi percontohan bagi korporasi lain di Indonesia dalam menerjemahkan prinsip keberlanjutan menjadi aksi konkret.
Di sektor dekarbonisasi, TelkomGroup telah menetapkan Climate Transition Plan sejak 2025 dengan target penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20 persen pada 2030, serta target Net Zero Emission pada 2060. Khusus di area perkantoran The Telkom Hub, capaian net zero emission untuk operasional Scope 1 dan 2 bahkan sudah terealisasi pada 2026.
Ke depan, praktik pengelolaan sampah terintegrasi dan efisiensi energi berbasis teknologi seperti Autonomous Network dan Green Data Center ini akan direplikasi secara bertahap di seluruh jaringan kantor TelkomGroup di Indonesia.
