JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Integrasi layanan transportasi darat berbasis bus dan rel di kawasan Grogol, Jakarta Barat, membutuhkan pembentukan masterplan tunggal, termasuk rencana revitalisasi JPO Grogol 12 Mei Reformasi.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino menegaskan pentingnya penyatuan konsep terintegrasi antara MRT Jakarta dan TransJakarta agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Langkah ini dinilai krusial agar pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) dapat terwujud secara optimal dalam jangka panjang.
"Kita melihat banyak puzzle dalam pembangunan di Jakarta. Harapannya TransJakarta dan MRT punya satu masterplan sama yang dipadu Dinas Citata dan Bappeda," kata Wibi, Selasa, 20 Oktober 2026.
Baca Juga: Dividen Hanya Rp876 Miliar, DPRD Jakarta Kritik Kinerja BUMD DKI
Wibi menekankan proyeksi kawasan terintegrasi Grogol akan menjadi prototype pembangunan TOD di wilayah Jakarta dengan mengutamakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, Direktur Lembaga Manajemen Universitas Trisakti, Prof. Bambang menilai kondisi fisik JPO Grogol 12 Mei Reformasi saat ini sudah tidak ideal.
Lebar eksisting JPO yang hanya 2,5 meter dinilai belum memenuhi standar ideal 6 meter untuk menampung mobilitas masyarakat dan mahasiswa secara inklusif.
"JPO sangat perlu direvitalisasi dan dikaitkan dengan TOD atau MRT yang akan dibangun agar inklusif bagi mahasiswa disabilitas," ujarnya.
Baca Juga: Atasi Darurat Sampah, DPRD Jakarta Kaji Regulasi soal Kontribusi Perusahaan Swasta
BUMD Transportasi Siapkan Konsep Teknis Terpadu di Kawasan Strategis Grogol
Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Weni Maulina menyatakan kesiapannya untuk menyusun perencanaan teknis terpadu di kawasan strategis Grogol.
