DKI Jakarta: Rp249,3 triliun.
Jawa Barat: Rp229,1 triliun.
Sulawesi Tengah: Rp116,0 triliun.
Jawa Timur: Rp110,5 triliun.
Maluku Utara: Rp96,0 triliun.
Sementara itu, pada Triwulan III 2026, realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun atau tumbuh 7,6% secara tahunan. Nilai tersebut terdiri atas PMA sebesar Rp270,2 triliun dan PMDN Rp258,5 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 745.634 orang.
Hilirisasi Menyumbang Rp480 Triliun
Selain investasi secara keseluruhan, hilirisasi menjadi salah satu sektor yang terus didorong pemerintah. Pada Januari–September 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun, tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusinya mencapai 31,2% dari total investasi nasional.
Sektor mineral mendominasi investasi hilirisasi dengan nilai Rp335,1 triliun. Di dalamnya terdapat investasi nikel sebesar Rp118,9 triliun, bauksit Rp115,7 triliun, besi baja Rp40,8 triliun, tembaga Rp39,5 triliun, dan pasir silika Rp7 triliun.
Investasi hilirisasi juga mencakup sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun.
Sebanyak 78% investasi hilirisasi atau Rp373,1 triliun terealisasi di luar Jawa. Sulawesi Tengah menjadi provinsi dengan investasi hilirisasi terbesar, yakni Rp100,4 triliun, disusul Maluku Utara sebesar Rp84,1 triliun.
Pada Triwulan III 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp179,9 triliun, meningkat 19,4% secara tahunan. Angka tersebut memperlihatkan besarnya peran pengolahan komoditas dalam negeri terhadap pertumbuhan investasi.
Baca Juga: Aktivis Greenpeace yang Masih Ditahan Siapa Saja? Ini Update Terbaru usai Aksi di Bundaran HI
