KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, mengingatkan pemerintah agar mewaspadai sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi mencapai atmosfer Jakarta.
Meski demikian, keberadaan asap di atmosfer tidak serta-merta membuktikan bahwa partikel tersebut telah mencapai permukaan dan terhirup masyarakat.
"Asap karhutla dapat terbawa angin pada ketinggian ratusan meter hingga beberapa kilometer sebelum mengalami pencampuran dan turun ke lapisan udara dekat permukaan," ujar Mahawan kepada Poskota, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Sementara itu, lanjut Mahawan, kualitas udara Jakarta juga dipengaruhi berbagai sumber pencemaran lokal, seperti kendaraan bermotor, industri, pembangkit listrik, aktivitas konstruksi, dan debu jalan.
Baca Juga: Asap Karhutla Terdeteksi di Atmosfer Jakarta, Warga Khawatir Kualitas Udara Memburuk
Karena itu, diperlukan upaya pengendalian pencemaran udara secara menyeluruh dan berkelanjutan dengan memperhatikan kontribusi setiap sumber polutan.
“Tidak tepat jika seluruh PM2.5 Jakarta langsung diklaim berasal dari karhutla, tetapi juga tidak tepat jika keberadaan asap karhutla di atmosfer Jakarta dianggap tidak relevan. Yang diperlukan adalah analisis kontribusi masing-masing sumber,” kata Mahawan.
Menurut Mahawan, pemerintah perlu menggabungkan data citra satelit, pemodelan atmosfer, arah angin, serta hasil pengukuran kualitas udara untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Citra satelit dapat membantu menunjukkan keberadaan dan pergerakan asap, sedangkan stasiun pemantauan kualitas udara mengukur konsentrasi polutan di dekat permukaan.
Mahawan menilai, indikator partikel halus PM2.5 dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) penting untuk menilai potensi paparan terhadap masyarakat.
Namun, data tersebut harus ditafsirkan secara tepat karena ISPU yang masih dalam kategori sedang tidak otomatis berarti asap tidak berada di atmosfer Jakarta, sementara ISPU buruk juga tidak membuktikan seluruh pencemaran berasal dari karhutla.
