“Komunikasi pemerintah perlu sangat hati-hati. Jangan hanya menggunakan visual langit yang tampak berkabut sebagai indikator bahaya, tetapi juga jangan membuat masyarakat merasa aman hanya karena asap berada di lapisan atas,” jelas Mahawan.
Mahawan menambahkan, dinamika atmosfer memungkinkan sebaran asap berubah dalam waktu relatif singkat. Partikel halus seperti PM2.5 dapat bertahan di udara dan terbawa angin hingga ratusan kilometer, bahkan lebih dari seribu kilometer dalam kondisi tertentu, sebelum sebagian partikel mencapai lapisan udara yang lebih rendah.
Karena itu, kata Mahawan, pemerintah perlu memantau prakiraan pergerakan asap dan kondisi atmosfer untuk 24 hingga 72 jam ke depan.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Asap Tebal Karhutla Masih Berdampak, Perlukah Bantuan Asing?
Pemantauan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi apakah asap akan menjauh, bertahan, atau bergerak menuju wilayah Jawa dan berpotensi memengaruhi kualitas udara di permukaan.
“Dari sisi kesehatan masyarakat, pendekatan yang tepat adalah prinsip kehati-hatian. Kita tidak perlu menunggu sampai kualitas udara masuk kategori sangat buruk untuk mulai melakukan tindakan perlindungan,” kata Mahawan.
Selanjutnya, Mahawan meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Ketika konsentrasi PM2.5 meningkat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, membatasi masuknya udara luar saat kondisi buruk.
Baca Juga: Indonesia Minta Bantuan Karhutla dari Jepang Diakhiri, Penanganan Mandiri Disorot
Kemudian Mahawan juga menekankan pentingnya mengubah peringatan dini menjadi tindakan nyata.
Jika pemodelan menunjukkan asap berpotensi memasuki Jakarta atau kota-kota besar di Pulau Jawa, pemerintah perlu menyiapkan fasilitas kesehatan, sekolah, transportasi, fasilitas publik, dan komunikasi risiko sebelum kondisi memburuk.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya apakah pemerintah mampu memberikan peringatan, tetapi apakah peringatan itu menghasilkan tindakan preventif sebelum masyarakat mengalami paparan tinggi,” ucap Mahawan.
