Suarakan Asap Karhutla, Amat Kazhoang Kreator asal Kalimantan Diancam Diculik

Rabu 14 Okt 2026, 17:37 WIB
Ilustrasi seorang kontent kreator di Kalimantan diancam diculik buntut kritik karhutla. (Sumber: Pixabay/iqbalstock)
Ilustrasi seorang kontent kreator di Kalimantan diancam diculik buntut kritik karhutla. (Sumber: Pixabay/iqbalstock)

Penelepon mencecar Amat agar tidak membawa-bawa nama pemerintah pusat serta meremehkan usia Amat dengan menyebut kabut asap pada masa lalu jauh lebih parah.

"Jangan sampai bawa-bawa pemerintah pusat. Kalimantan dari dulu memang sudah asap kabut. Umur kamu berapa sekarang, sok-sokan jadi pahlawan," tegas penelepon tersebut.

Baca Juga: Apakah Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Bisa Sampai Jakarta? Begini Penjelasannya

Menanggapi intimidasi tersebut, Amat memberikan jawaban menohok. Ia menegaskan bahwa sebagai warga asli Kalimantan yang merasakan langsung pekatnya asap setiap hari, ia memiliki hak penuh untuk bersuara dan menyampaikan realita objektif di lapangan tanpa harus dibatasi oleh faktor usia maupun tekanan pihak tertentu.

Gelombang Dukungan Warganet dan Isu Kebebasan Berpendapat

Langkah berani Amat Kazhoang dalam mempublikasikan rekaman teror tersebut memantik gelombang dukungan luas dari netizen. Kolom komentar unggahannya dipenuhi pesan penyemangat agar Amat tidak gentar dalam menyuarakan kondisi daerah

"GA USAH TAKUT BUAT BERSUARA!" tulis akun @rusyd*****_ memberikan dukungan. Pesan dukungan juga disampaikan oleh sesama content creator @virdian_aurellio yang menuliskan, "Stay safe braderrr,".

Di sisi lain, publik turut menyuarakan keprihatinan mereka  terkait ancaman kebebasan bersuara.

Baca Juga: Leonardo DiCaprio Komentari Karhutla Indonesia, Soroti Ancaman Satwa Langka

"Apa-apa diancam culik, dihilangin, dibungkam, intimidasi itu tanda dan bukti apa toh adek adek?" ungkap akun @toupu***.

Sejumlah warga lokal Kalimantan pun turut membantah narasi penelepon yang terkesan memaklumi bencana asap yang sedang terjadi. Melalui kolom komentar, mereka menegaskan bahwa kondisi kabut asap saat ini tidak bisa dianggap wajar atau disamakan dengan masa lalu.

Kasus ini menjadi cerminan pentingnya perlindungan kebebasan bersuara bagi para kreator konten dan masyarakat lokal saat mengawal isu-isu lingkungan dan bencana di daerahnya. (m6)


Berita Terkait


News Update