Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Untuk meraih sukses – menuai keberhasilan butuh perjuangan, sementara perjuangan butuh pengorbanan, baik korban waktu, tenaga dan pikiran, bahkan finansial.
Dalam pepatah berbahasa Jawa dikenal: Jer basuki mawa beya. Dalam artian setiap keinginan, cita – cita dan kebahagiaan pasti membutuhkan biaya, bentuknya bisa berupa uang, tenaga, pikiran dan pengorbanan lain.
Soal filosofi jer basuki mawa beya itu pula yang disinggung Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat memimpin upacara peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, 12 Oktober 2026.
Tanda Kehormatan Lencana Jer Basuki Mawa Beya itu pula yang disematkan kepada pejabat dan tokoh masyarakat, penggiat sosial, dan pelaku usaha yang dinilai berkontribusi bagi Jawa Timur.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menunggu Masukan Wantimpres
“Bagi masyarakat Jatim, filosofi tersebut tidak asing lagi, karena telah menjadi moto dalam lambang resmi Pemprov Jatim,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Optimisme bahwa keberhasilan membutuhkan kesungguhan, kerja keras, dan pengorbanan, itulah yang perlu dibangun. Tak hanya bagi masyarakat Jatim juga seluruh rakyat Indonesia,” tambah Yudi.
“Pesan yang hendak disampaikan, sukses tidak turun begitu saja dari langit. Tanpa usaha, kerja keras, perjuangan dan pengorbanan, jangan harap meraih keberhasilan. Begitu juga keberhasilan pengentasan kemiskinan, mengatasi kesenjangan, menciptakan adil dan makmur,” urai mas Bro.
“Ada keberhasilan instan, tanpa perjuangan, cukup duduk ongkang – ongkang kaki. Misalnya terima harta warisan,” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Polri Bersama Masyarakat Semakin Dipercaya, Hebat, dan Kuat
“Jangan bercanda, kita lagi ngobrolin yang serius, soal perjuangan dan pengorbanan meraih keberhasilan,” protes Heri.
“Warisan boleh juga, asal yang diwariskan adalah nilai – nilai kejuangan dan pengorbanan dalam membangun bangsa dan negara. Perjuangan tiada henti menyejahterakan rakyat Indonesia, terlebih dari keteladanan para elite dan pejabat negeri kita ini,” ujar mas Bro.
“Menjadi pejabat atau wakil rakyat harus berani berkorban. Mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, di atas kepentingan pribadi dan keluarganya. Kesadaran ini harus tumbuh sejak awal mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau wakil rakyat,” kata Heri.
“Setuju. Jika ogah berjuang dan berkorban untuk rakyat, tak perlu menjadi pejabat. Mencalonkan diri sebagai pejabat baik eksekutif maupun legislatif berarti siap berkorban untuk rakyat. Bukan sebaliknya menggunakan kekuasaan dan jabatannya untuk kepentingan keluarga dan kerabat,” kata Yudi.
“Jika setiap pemimpin sudah menerapkan filosofi Jer basuki mawa beya, diharapkan praktik korupsi dan transaksi politik uang tiada lagi. Karena tadi, ada kesadaran mengutamakan perjuangan dan pengorbanan untuk meraih keberhasilan,” urai mas Bro.
