Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Oktober 2026 Tanggal Berapa? Catat Waktu, Niat, dan Tata Caranya

Selasa 13 Okt 2026, 14:37 WIB
Jadwal, niat, dan tata cara puasa Ayyamul Bidh Oktober 2026 (Sumber: Freepik/jcomp)
Jadwal, niat, dan tata cara puasa Ayyamul Bidh Oktober 2026 (Sumber: Freepik/jcomp)

Lafaz tersebut dapat digunakan sebagai panduan untuk membantu menghadirkan niat. Meski demikian, yang menjadi unsur utama adalah niat di dalam hati, bukan semata-mata pengucapan lafaz dengan lisan.

2. Memperhatikan Waktu Berniat Puasa

Waktu berniat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menjalankan puasa.

Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya memiliki ketentuan tersendiri, puasa sunnah mempunyai kelonggaran waktu niat menurut sejumlah pendapat ulama.

Dalam pembahasan fikih, seseorang diperbolehkan berniat puasa sunnah pada pagi hari hingga sebelum waktu zawal atau sebelum matahari tergelincir ke arah barat, dengan syarat belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan kebolehan berniat puasa sunnah sebelum waktu zawal dengan merujuk pada riwayat ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar mengenai makanan, kemudian menyatakan akan berpuasa setelah mengetahui tidak ada makanan.

Berikut kutipan Arab yang dicantumkan dalam materi rujukan:

وَيَصِحُّ صَوْمُ النَّفْلِ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الزَّوَالِ، لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَائِشَةَ يَوْمًا: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ؟ قَالَتْ: لَا. قَالَ: فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ. وَاخْتُصَّ بِمَا قَبْلَ الزَّوَالِ لِلْخَبَرِ، إِذِ الْغَدَاءُ اسْمٌ لِمَا يُؤْكَلُ قَبْلَ الزَّوَالِ وَالْعَشَاءُ اسْمٌ لِمَا يُؤْكَلُ بَعْدَهُ، وَلِأَنَّهُ مُنْضَبِطٌ بَيِّنٌ وَلِإِدْرَاكِ مُعْظَمِ النَّهَارِ بِهِ. وَبَدِهِيٌّ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ الِامْتِنَاعُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ

Artinya:

“Puasa sunnah sah dilakukan dengan niat sebelum tergelincirnya matahari (sebelum waktu Zuhur). Hal ini berdasarkan hadis bahwa pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar: Apakah kalian mempunyai makanan untuk sarapan? Sayyidah Aisyah menjawab, Tidak. Beliau bersabda: Kalau begitu, aku akan berpuasa. Kebolehan berniat puasa sunnah sebelum Zuhur ini dikhususkan berdasarkan hadis tersebut, sebab kata ghadā’ adalah nama untuk makanan yang dimakan sebelum tergelincirnya matahari, sedangkan ‘asyā’ adalah nama untuk makanan yang dimakan setelahnya. Selain itu, batas sebelum Zuhur merupakan waktu yang jelas dan terukur, serta dengan niat pada waktu itu seseorang masih mendapatkan sebagian besar waktu siang. Sudah jelas pula bahwa syarat sah puasa dalam keadaan seperti ini adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga waktu niat tersebut.”

(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, jilid 3, hlm. 1672).

Berdasarkan penjelasan tersebut, seseorang yang belum berniat pada malam hari tetap dapat mengikuti pendapat yang membolehkan niat puasa sunnah pada pagi atau siang hari sebelum zawal.

Syaratnya, sejak terbit fajar ia belum makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Adapun lafaz niat yang dapat dibaca pada siang hari adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى


Berita Terkait


News Update