"Untung ada anak saya di sini, BM, yang dia tahu saya dengan muka geram keluar ke rumah, dia menyusul. Lalu setelah ada gestur menyerang saya, dia menahan saya, melindungi saya, sehingga dia juga kena serang," tuturnya.
Amanda menyebut jarak rumahnya dengan lokasi acara sekitar 200-250 meter. Ia mengklaim sejumlah warga lainnya juga keluar rumah, karena terganggu suara petasan dan kembang api.
"Saya ditanya apakah kamu Muslim atau bukan, saya ditanya apakah warga sini atau bukan, sedangkan saya jelas-jelas warga sini. Kalau ditarik dari radius rumah saya ke lokasi ya cuma 200, 250 meter," ucapnya.
Amanda mengatakan dirinya tidak mengetahui secara langsung siapa pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Karena itu, dalam laporan polisi, dia melaporkan pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara.
"Saya melaporkan lebih ke acaranya, penanggung jawabnya," ucap Amanda.
Setelah laporan diterima, ia bersama anaknya akan menjalani visum di RS Polri untuk mendukung proses penyelidikan. Dia juga telah menyiapkan sejumlah barang yang disebutnya berkaitan dengan kejadian, termasuk pakaian yang dikenakan saat insiden dan pakaian dalam yang diklaim robek.
Sebelum membuat laporan polisi, Amanda mengaku telah mengikuti sejumlah mediasi. Mediasi pertama berlangsung pada Minggu pagi dengan melibatkan LMK dan RW setempat, sedangkan mediasi berikutnya digelar malam hari atas inisiatif pihak kelurahan dan dimoderatori Lurah Pondok Pinang.
Amanda mengatakan permintaan maaf telah disampaikan dalam proses mediasi tersebut, tetapi hasil pertemuan dinilai belum membuat dirinya dan pihak lain yang merasa menjadi korban puas.
