JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Penggunaan obat secara sembarangan dan dalam jangka panjang menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai di tengah fenomena pasien cuci darah yang semakin muda di Jakarta. Obat tertentu yang dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan fungsi ginjal, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.
Pakar kesehatan masyarakat dan epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan penggunaan obat antinyeri tertentu secara berlebihan atau berkepanjangan.
Selain itu, produk herbal maupun suplemen yang tidak jelas kandungan dan keamanannya juga perlu diwaspadai jika dikonsumsi terus-menerus tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
"Jangan lupa ada faktor obat dan herbal, ini yang kurang dibicarakan dalam edukasi publik. Jadi penggunaan obat antinyeri tertentu secara berlebihan atau berkepanjangan juga pada orang dengan risiko tertentu, ini bisa membahayakan ginjal," kata Dicky saat dihubungi, Jumat, 25 September 2026.
Baca Juga: Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026, Kick Off 20.00 WIB
Menurutnya, fenomena anak muda yang harus menjalani cuci darah tidak bisa langsung disimpulkan hanya disebabkan pola makan dan minum yang tidak sehat. Penyakit ginjal kronis merupakan penyakit multifaktorial dengan penyebab yang berbeda pada setiap individu.
Dicky menjelaskan, hemodialisis diperlukan ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan sangat berat. Pada pasien yang menjalani dialisis di Indonesia, sejumlah penyebab penting antara lain hipertensi, diabetes, penyakit glomerulus, dan penyakit ginjal lainnya.
"Ada anak-anak dan usia sangat muda, terdapat faktor lain seperti kelainan bawaan, kelainan struktur ginjal, penyakit autoimun, hingga glomerulonefritis. Kalau kita melihat orang usia 20-30 tahunan menjalani hemodialisis, tidak bisa kita langsung menyimpulkan karena sering minum manis atau makan junk food," ujarnya.
Meski begitu, ia mengatakan gaya hidup tetap menjadi salah sebuah faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal. Konsumsi minuman berpemanis, makanan tinggi kalori dan garam, kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, serta diabetes dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah dan ginjal.
"Jadi bukan satu gelas minuman manis yang membuat ginjal rusak, tapi juga pola paparan, faktor risiko yang terus-menerus lama," ucapnya.
Ia juga menyoroti penyakit hipertensi dan diabetes yang kerap tidak terdeteksi karena dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang baru mengetahui adanya gangguan kesehatan ketika sudah mengalami komplikasi.
Begitu pula penyakit ginjal kronis yang pada tahap awal sering kali tidak memberikan keluhan yang jelas. Seseorang yang masih berusia 25 hingga 35 tahun bisa merasa sehat meski telah memiliki faktor risiko atau kerusakan ginjal.
"Fenomena anak muda tiba-tiba cuci darah kadang sebenarnya bukan penyakit yang tiba-tiba muncul, tapi penyakit yang sudah berlangsung lama, tapi baru ditemukan ketika fungsi ginjal sudah sangat menurun," tuturnya.
Ia meminta masyarakat tidak hanya memperhatikan pola makan, tetapi juga berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan ginjal. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, berat badan serta perhatian terhadap obat yang dikonsumsi perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan.
"Yang penting bukan hanya apa yang kita makan, tapi juga tekanan darah, gula darah, berat badan, aktivitas fisik, obat yang dikonsumsi, riwayat keluarga, penyakit autoimun, infeksi, dan kondisi ginjal sebelumnya itu juga akan penting diperhatikan dan berpengaruh," pungkasnya.
