POSKOTA.CO.ID - Keputusan Tijjani Reijnders meninggalkan Manchester City dan bergabung dengan Al-Qadsiah di Arab Saudi bukan semata-mata soal karier sepak bola.
Gelandang Timnas Belanda itu secara terbuka mengakui bahwa faktor finansial turut menjadi pertimbangan penting dalam kepindahannya.
Reijnders bergabung dengan Al-Qadsiah melalui transfer senilai 52 juta pound atau sekitar Rp1,1 triliun. Sementara itu, total nilai kontraknya selama beberapa tahun dilaporkan mencapai 86 juta pound atau setara Rp1,8 triliun.
Nilai tersebut membuat kepindahan Reijnders menjadi pembahasan, terutama karena ia meninggalkan klub besar Premier League untuk melanjutkan karier di Saudi Pro League.
Baca Juga: 3 Pernyataan Java United soal Keributan Lawan Persija, Serahkan ke Komdis PSSI
Alasan Finansial di Balik Kepindahan Reijnders
1. Kontrak Besar untuk Masa Depan Keluarga
Dalam wawancara dengan NOS, Reijnders tidak berusaha menutupi pengaruh uang terhadap keputusannya. Ia menyadari bahwa kontrak di Manchester City sebenarnya sudah bisa memberikan jaminan finansial setelah karier sepak bolanya berakhir. Namun, tawaran dari Al-Qadsiah membuka peluang untuk mengamankan kehidupan keluarganya hingga generasi berikutnya.
“Saya mata duitan? Saya tidak bisa menyangkalnya,” kata Reijnders kepada NOS.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertimbangannya bukan sekadar pendapatan pribadi. Reijnders juga memikirkan kondisi ekonomi anak dan cucunya di masa depan. Dalam laporan terkait wawancara itu, ia menyebut bahwa dirinya ingin memastikan generasi penerus keluarga dapat hidup dengan aman secara finansial.
Bagi Reijnders, kesempatan memperoleh kontrak bernilai besar pada masa karier aktif merupakan peluang yang sulit diabaikan. Ia bahkan mempertanyakan alasan untuk menolak tawaran tersebut jika hasilnya bisa memberikan keamanan bagi keluarganya.
2. Tidak Hanya karena Uang, Ada Persoalan di Manchester City
Meski aspek finansial menjadi sorotan utama, kepindahan Reijnders juga berkaitan dengan perannya di Manchester City. Pemain asal Belanda itu merasa posisi bermainnya tidak sepenuhnya sesuai dengan karakter yang diinginkan.
Reijnders lebih menyukai peran gelandang box-to-box atau nomor delapan, yang memungkinkannya bergerak membantu serangan dan pertahanan. Namun, ia semakin sering ditempatkan di posisi yang lebih menyerang. Kondisi tersebut turut mendorongnya mempertimbangkan masa depan di klub lain.
