JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan awal musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat dan lebih singkat di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dikutip dari laman resmi BMKG, dalam konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa, 22 September 2026 dijelaskan oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani bahwa kombinasi dari fenomena El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) dengan peluang menuju pada fase positif di Samudra Hindia, dapat memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga berdampak pada intensitas curah hujan.
Meskipun BMKG memaparkan prediksi kemunduran musim penghujan secara nasional, wilayah Jakarta sendiri diperkirakan baru memasuki awal periode basah pada bulan November-Desember, dengan prediksi puncak curah hujan pada awal tahun depan.
Kondisi ini membuat durasi udara kering dan polusi di Jakarta dapat berlangsung lebih lama. Berikut beberapa dampak yang dapat dirasakan warga Ibu Kota akibat kemarau yang berkepanjangan:
Baca Juga: El Nino Picu Kemarau Ekstrim, BMKG Peringatkan Warga Jakarta Waspada Kebakaran dan Krisis Air Bersih
Bahaya Udara Kering Bagi Pernapasan
Kombinasi dari polusi udara dan mundurnya musim penghujan akibat kemarau panjang, tentunya dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk risiko gangguan pernapasan.
Melansir dari Allergy dan Asthma Network, kondisi cuaca yang panas membuat udara menjadi lebih stagnan sehingga risiko terperangkap nya polutan, serbuk sari, debu dan spora jamur yang dapat memicu gejala asma menjadi semakin tinggi. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko infeksi pernapasan akut seperti bronkitis dan pneumonia bakteri.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga telah merilis protokol kesehatan pencegahan polusi udara 6M dan 1S, yaitu:
- Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website.
- Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah/kantor/sekolah/tempat umum di saat polusi udara tinggi.
- Menggunakan penjernih udara dalam ruangan
- Menghindari sumber polusi dan asap rokok
- Menggunakan masker saat polusi udara tinggi, direkomendasikan menggunakan masker KN 95 atau KF 94
- Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
- Segera konsultasi daring/luring dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan
Baca Juga: Waspada Gangguan Pernapasan Berkepanjangan, Masyarakat Diimbau Hidup Bersih dan Sehat
Penyakit Pencernaan
Selama musim kemarau dan persediaan air bersih semakin menipis, risiko penyakit menular seperti diare dapat meningkat akibat kebersihan yang tidak dijaga.
Melansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), E. coli dan Salmonella adalah contoh bakteri yang lebih mudah mencemari makanan dan menyebabkan penyakit menular selama kekeringan. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya persediaan air bersih untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, sehingga air yang sudah terkontaminasi oleh kuman dari limbah sering kali terpaksa dikonsumsi.
Selain perlu memperhatikan sumber air yang dikonsumsi, penyakit pencernaan juga dapat dicegah melalui upaya menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan menggunakan sabun setelah dari kamar mandi atau sebelum mengkonsumsi makanan.
Baca Juga: Jakarta Masuk Awas Kekeringan, BPBD Catat Sudah Ada 13 Laporan Warga Butuh Air Bersih
Iritasi Mata
Partikel debu, polutan dan zat kimia berbahaya di udara dapat menyebabkan iritasi pada mata. Partikel-partikel yang masuk ke dalam mata, dapat membuat mata merah, kering, gatal dan tidak nyaman. Kondisi ini dapat diperparah dengan adanya radang pada selaput mata, atau konjungtivitis yang dapat membuat mata merah, berair disertai perasaan seperti terbakar.
Dilansir dari National Eye Center (NEC), berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mata dari paparan polusi udara:
- Gunakan kacamata pelindung
- Hindari tempat dengan polusi udara tinggi
- Rutin memberikan mata dengan air
- Gunakan obat tetes mata dengan kandungan yang aman
- Gunakan penyaring udara di ruangan
Berbagai ancaman kesehatan mulai dari gangguan pernapasan, masalah pencernaan hingga iritasi mata menunjukan bahwa kemarau yang lebih panjang bukan sekedar fenomena cuaca, melainkan juga dapat berdampak bagi kesehatan.
Oleh karena itu, kesadaran warga Jakarta dalam menerapkan pola hidup sehat, bersih, dan memantau kualitas udara serta disiplin menjaga protokol kesehatan menjadi fondasi utama agar tetap terlindungi selama masa kemarau berlangsung. (M6)
