POSKOTA.CO.ID - Kebiasaan memikirkan kemungkinan buruk atau terus mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan mungkin dialami banyak orang.
Akan tetapi, ketika pikiran negatif terus berulang dan sulit dihentikan, kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan otak.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020 menemukan hubungan antara repetitive negative thinking (RNT) atau pola berpikir negatif berulang dengan penurunan fungsi kognitif, serta penumpukan protein amyloid dan tau yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
Baca Juga: Influenza A di Indonesia Meningkat, Apa Bedanya dengan Batuk Pilek Biasa? Cek Gejala dan Risikonya
Penelitian Mengamati Hubungan Overthinking dan Fungsi Otak
Penelitian yang dipimpin Natalie L. Marchant dan timnya melibatkan peserta dewasa lanjut usia dari sejumlah kelompok penelitian. Sebanyak 292 peserta menjalani pemeriksaan kognitif secara berkala, sementara sebagian peserta juga mengikuti pemindaian otak untuk mengamati amyloid dan tau.
Dalam pengamatan hingga 48 bulan atau sekitar empat tahun, peserta dengan tingkat RNT lebih tinggi menunjukkan penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat. Hubungan tersebut terlihat pada kemampuan berpikir secara umum, memori jangka pendek, dan memori tertunda.
Peneliti juga menemukan hubungan antara RNT dan deposit amyloid di otak, serta protein tau di bagian entorhinal cortex. Kedua protein tersebut merupakan penanda biologis yang dipelajari dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer.
Namun, temuan ini tidak dapat diartikan bahwa kebiasaan overthinking secara langsung menyebabkan Alzheimer. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
“RNT was associated with decline in cognitive domains affected early in AD.” — Alzheimer’s & Dementia, 2020.
Apa Itu Repetitive Negative Thinking?
RNT bukan sekadar perasaan sedih, kecewa, atau pesimis yang muncul sesekali. Istilah ini merujuk pada pola pikiran negatif yang berulang, menetap, dan sulit dialihkan.
Ada dua bentuk yang umum dibahas dalam penelitian:
- Worry (kekhawatiran): Terus memikirkan kemungkinan buruk yang belum terjadi, seperti masalah keuangan, pekerjaan, atau kesehatan.
- Rumination (perenungan): Berulang kali mengingat kejadian buruk di masa lalu tanpa berhasil melepaskan diri dari pikiran tersebut.
Kedua pola ini berfokus pada proses berpikir yang berulang, bukan semata-mata isi pikiran negatifnya.
Baca Juga: Apa Itu Mindfulness? Memahami Cara Hadir di Saat Ini
Apakah Sering Berpikir Negatif Berarti Akan Mengalami Alzheimer?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara RNT, perubahan biologis otak, dan penurunan kemampuan kognitif. Namun, hasil tersebut belum membuktikan bahwa setiap orang yang sering overthinking akan mengalami Alzheimer.
Peneliti sendiri menekankan perlunya studi lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi pola berpikir negatif dapat memengaruhi risiko Alzheimer. Penelitian intervensi, termasuk pendekatan psikologis, menjadi salah satu arah yang dapat dikaji.
Karena itu, memiliki pikiran buruk sesekali tidak perlu langsung dianggap sebagai tanda gangguan otak. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan apakah kekhawatiran atau perenungan tersebut terus berulang dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Jika pikiran yang sulit dikendalikan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, atau aktivitas harian, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
