POSKOTA.CO.ID - Konten mindfulness Maudy Ayunda tengah menjadi sorotan usai video YouTube berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News - Maudy Ayunda" ramai diperbincangkan di media sosial.
Video yang telah diunggah sekitar tiga minggu lalu tersebut kembali muncul dalam percakapan warganet dan memicu beragam respons.
Sejumlah pengguna media sosial menyoroti sudut pandang yang disampaikan Maudy ketika membahas cara menghadapi derasnya pemberitaan buruk yang terjadi di tengah masyarakat.
Maudy Ayunda bahkan disebut "tone deaf" hingga dianggap "tak napak tanah".
Kritik itu muncul karena sebagian warganet menilai pembahasan mengenai cara menjaga kesehatan mental ketika menghadapi banjir berita buruk kurang mencerminkan kondisi masyarakat yang tengah menghadapi persoalan secara langsung.
Di tengah kritik tersebut, Maudy kemudian memberikan klarifikasi melalui kolom komentar video YouTube miliknya.
Lantas, konten mindfulness Maudy Ayunda sebenarnya membahas apa? Mengapa video tersebut kembali viral dan menuai kritik dari warganet?
Berikut isi pembahasan Maudy serta klarifikasi yang disampaikannya setelah menjadi sorotan di media sosial.
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Bahas Apa?
Sebagaimana dilansir dari YouTube Maudy Ayunda, pada Senin, 14 September 2026, Maudy membahas bagaimana seseorang dapat tetap peduli terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dunia tanpa mengabaikan kondisi mental dan emosional diri sendiri.
Pembahasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Maudy ketika menghadapi banyaknya informasi mengenai berbagai persoalan, baik yang terjadi secara global maupun di Indonesia.
Dia mengaku dalam beberapa bulan terakhir, bahkan mungkin sepanjang satu tahun terakhir, dirinya merasa terus-menerus dibombardir oleh berbagai kabar buruk.
Informasi yang datang secara beruntun tersebut membuat Maudy merasakan beragam emosi.
Ia mengatakan tidak jarang merasa kewalahan ketika harus menerima banyak berita buruk dalam waktu berdekatan.
“I'm sure we're all feeling super overwhelmed and we might have times where we feel like, ‘Oh my God, this is so back to back.’ How do I process this? (Saya yakin kita semua merasa sangat kewalahan dan mungkin ada saat-saat ketika kita merasa, ‘Ya Tuhan, ini terjadi bertubi-tubi. Bagaimana saya memproses semua ini?),” kata Maudy.
Menurut Maudy, perasaan kewalahan ketika menghadapi banyak informasi negatif sebenarnya merupakan sesuatu yang normal.
Manusia memiliki keterbatasan dalam memproses berbagai informasi dan emosi yang datang secara bersamaan.
Dirinya kemudian mencoba menjelaskan kondisi tersebut dari sisi evolusioner dan biologis.
Menurutnya, kemampuan otak manusia tidak selalu dapat mengikuti besarnya skala persoalan yang muncul dalam pemberitaan.
“There's actually like, an evolutionary and a biological reason probably as to why our brain is just not keeping up with the scale of bad things (Sebenarnya ada alasan evolusioner dan biologis yang mungkin menjelaskan mengapa otak kita tidak mampu mengikuti besarnya skala berbagai hal buruk yang terjadi),” jelasnya.
Bagi Maudy, memahami mekanisme tersebut membantunya melihat kondisi emosional secara lebih objektif.
Perasaan kewalahan tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Sebaliknya, rasa lelah secara emosional dapat muncul karena seseorang terus menerima informasi mengenai berbagai masalah yang terjadi secara bersamaan.
Arus informasi yang datang tanpa henti dapat membuat seseorang merasa kesulitan untuk memilah, memahami, sekaligus merespons setiap persoalan yang ditemuinya.
Selain membicarakan kondisi emosional, Maudy juga menyinggung konsep negativity bias.
Istilah itu merujuk pada kecenderungan otak manusia untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif.
Dalam konteks pemberitaan, kecenderungan tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah mengingat kritik, konflik, bencana, maupun berbagai kabar buruk yang diterimanya.
Maudy menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut berkaitan dengan mekanisme bertahan hidup manusia.
Otak pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memberikan perhatian lebih terhadap sesuatu yang dianggap sebagai ancaman agar manusia dapat tetap waspada.
Pembahasan Maudy kemudian dikaitkan dengan pemikiran filsuf Stoik, Epictetus.
Dia menyinggung gagasan mengenai hal-hal yang berada dalam kendali seseorang dan hal-hal yang berada di luar kendali.
Menurut Maudy, salah satu sumber kecemasan dan frustrasi dapat muncul ketika seseorang berusaha mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuannya.
Maudy mengatakan pemikiran Epictetus membantunya memahami alasan munculnya berbagai emosi ketika melihat kabar buruk.
Menurut dia, membedakan hal yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan dapat menjadi salah satu cara untuk memahami respons diri.
Baca Juga: Never Bow Down Artinya Apa? Ini Makna Koreografi The Jakmania di Laga Persija vs Persib
Klarifikasi Maudy Ayunda
Dalam klarifikasinya, Maudy Ayunda mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari pemberitaan buruk merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
Ia mengatakan tidak semua orang memiliki pilihan untuk mengambil jarak dari berita, terutama apabila persoalan yang diberitakan berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.
Maudy juga mengakui bahwa perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.
“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” kata Maudy Ayunda, di kolom komentar video YouTube-nya, dikutip Senin 14 September 2026.
Maudy juga menjelaskan bahwa konten tersebut tidak dibuat untuk mengajak masyarakat mengabaikan berbagai persoalan yang sedang terjadi.
“Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti,” jelas dia.
Ia pun menyinggung kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, bencana gempa, hingga berbagai kebijakan dan program yang dinilai tidak tepat sasaran serta dapat berdampak langsung kepada masyarakat.
Maudy menegaskan, situasi tersebut merupakan kondisi yang berat, terutama bagi masyarakat atau komunitas yang berada di garis depan sebagai pihak terdampak.
“The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking… adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yg ngga tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yg jg sama pentingnya. This is such an exceptionally hard time, for those impacted communities especially, and they need all support and visibility they can get,” ungkapnya.
