Profil Febiola Br Purba, Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo yang Kini Kehilangan Ingatan

Selasa 08 Sep 2026, 12:13 WIB
Febiola Br Purba, siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, yang mengalami kondisi serius setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: Instagram)
Febiola Br Purba, siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, yang mengalami kondisi serius setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: Instagram)

SUMUT, POSKOTA.CO.ID - Febiola Br Purba dikenal sebagai siswi berprestasi di SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Di usianya yang baru 16 tahun, Febiola bukan hanya menonjol dalam bidang akademik, tetapi juga dipercaya memegang tanggung jawab sebagai Wakil Ketua OSIS.

Febiola merupakan putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pekerja dan tukang kebun. Meski berasal dari keluarga sederhana, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk berprestasi di sekolah.

Ia disebut kerap meraih peringkat pertama di kelas. Kemampuan akademik tersebut berjalan beriringan dengan jiwa kepemimpinan yang membuatnya dipercaya menjadi bagian dari pengurus OSIS.

Namun, kehidupan Febiola berubah setelah dirinya mengalami dugaan keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga: Apakah Gunung Gede, Kelud, Salak, Tambora hingga Toba Masih Aktif pada September 2026?

Kondisi Febiola Memburuk Beberapa Hari Setelah Menyantap MBG

Melansir dari instagram @folkshit Febiola dilaporkan mengalami gejala keracunan cukup parah setelah mengonsumsi makanan program MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026. Sempat mengalami perbaikan kondisi, keadaan Febiola justru menurun drastis beberapa hari kemudian.

Pada 16 Agustus 2026, kondisinya dilaporkan drop. Ia mengalami kejang hebat hingga kehilangan kesadaran dan kemudian harus mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Dalam pemeriksaan, dokter menyatakan Febiola mengalami amnesia atau kehilangan ingatan hingga sekitar 70 persen. Dampaknya tidak sederhana. Ia disebut kesulitan mengenali orang-orang terdekat maupun benda yang sebelumnya akrab dalam kesehariannya.

Orang tua, adik, teman sekolah, guru, bahkan barang pribadinya menjadi sulit dikenali oleh Febiola.

Situasi tersebut membuat proses perawatan harus dilakukan secara intensif. Febiola tercatat telah menjalani perawatan di lima rumah sakit, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, hingga RS Amanda Karo.

Dokter juga menyebut Febiola membutuhkan terapi intensif secara rutin setidaknya selama satu tahun untuk membantu proses pemulihannya.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Cegah Paparan Abu Vulkanik, Sekolah Online Diperpanjang

Perjalanan Perawatan Febiola

Berikut sejumlah rumah sakit yang disebut menjadi bagian dari perjalanan perawatan Febiola:

  • RS Kabanjahe – menjadi salah satu fasilitas kesehatan tempat Febiola mendapatkan penanganan.
  • RS Efarina – Febiola kemudian menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
  • RS Haji Medan – perawatan berlanjut setelah kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut.
  • RSUP Adam Malik – Febiola mendapat penanganan di rumah sakit rujukan tersebut.
  • RS Amanda Karo – menjadi salah satu rumah sakit dalam rangkaian perawatan yang dijalaninya.

Kasus yang dialami Febiola kemudian mendapat perhatian publik. Sorotan tidak hanya tertuju pada kondisi kesehatan siswi tersebut, tetapi juga pada penyelenggaraan program MBG dan bagaimana tanggung jawab diberikan ketika terjadi dugaan keracunan.

Ombudsman Sumatra Utara turut melakukan pengawasan terhadap kasus tersebut. Perhatian publik kini mengarah pada proses penanganan korban, pemulihan kesehatan Febiola, serta pertanggungjawaban penyelenggara program.

Bagi keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal makanan yang dikonsumsi. Ada kehidupan seorang remaja, pendidikan yang terhenti, serta proses pemulihan panjang yang harus dijalani.

Febiola yang sebelumnya aktif belajar dan menjalankan tanggung jawab sebagai Wakil Ketua OSIS kini harus menghadapi perjalanan medis yang panjang. Pemulihan selama setidaknya satu tahun menjadi tantangan baru bagi dirinya dan keluarga.


Berita Terkait


News Update