POSKOTA.CO.ID - Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian setelah suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis meningkat dengan cepat. Kondisi kali ini dinilai tidak biasa karena penguatannya berlangsung ketika fenomena tersebut masih tergolong baru terbentuk.
Para ilmuwan iklim pun mulai memperhatikan perkembangan ini. Bukan semata karena El Nino merupakan fenomena yang sudah dikenal, melainkan karena laju kenaikan suhunya membuat perkiraan mengenai puncak kekuatannya menjadi lebih sulit.
El Nino terjadi ketika permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis mengalami pemanasan di atas kondisi normal. Perubahan tersebut kemudian dapat memengaruhi pola atmosfer dan memicu perubahan cuaca di berbagai wilayah dunia.
Secara umum, El Nino merupakan salah satu fase dari siklus El Nino-Southern Oscillation atau ENSO. Siklus ini bergerak di antara tiga kondisi, yakni El Nino sebagai fase hangat, La Nina sebagai fase dingin, dan kondisi netral.
Baca Juga: Jakarta Bebas Abu Anak Krakatau, Pemprov DKI Tetap Siram Water Mist Bersihkan Sisa Residu Udara
Suhu Laut Pasifik Sudah Melewati Ambang El Nino
Melansir dari natgeo, Kemunculan El Nino biasanya ditandai dengan suhu permukaan laut yang setidaknya 0,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata jangka panjang di wilayah pemantauan.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) sebelumnya mengumumkan bahwa ambang tersebut telah terlampaui pada awal Juni. Kondisi ini sekaligus mengonfirmasi bahwa pemanasan Pasifik yang sebelumnya diperkirakan oleh sejumlah model iklim memang mulai terjadi.
Yang kemudian menjadi perhatian adalah kecepatannya.
Pada minggu pertama Agustus, suhu di Pasifik bagian timur tercatat sekitar 2,6 derajat Celsius di atas normal. Angka tersebut sudah berada pada level yang sangat tinggi untuk sebuah fenomena yang masih relatif muda.
Jika tren pemanasan terus berlanjut, El Nino kali ini berpotensi menjadi salah satu episode terkuat yang pernah diamati.
Apa yang Dimaksud dengan Super El Nino?
Istilah “super El Nino” digunakan untuk menggambarkan episode El Nino dengan pemanasan laut yang sangat kuat. Namun, istilah tersebut bukan berarti setiap wilayah di dunia otomatis mengalami cuaca ekstrem yang sama.
Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, mengatakan kenaikan suhu lebih dari 2 derajat Celsius umumnya sudah dapat dikategorikan sebagai super El Nino.
“Sebagai gambaran, kenaikan suhu di atas 2°C dianggap sebagai super El Nino,” ujar Hausfather.
Menurutnya, jika melihat suhu harian, kondisi Pasifik saat ini sudah masuk jauh ke dalam kategori El Nino yang sangat kuat.
Baca Juga: Sebaran Abu Anak Krakatau Bergerak ke Samudra Hindia, Jakarta Keluar dari Zona Bahaya
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Beberapa perubahan yang dapat berkaitan dengan El Nino antara lain:
Pergeseran pola hujan
Sejumlah wilayah dapat mengalami curah hujan yang lebih rendah, sementara daerah lain justru berpotensi menghadapi hujan lebih tinggi.
Musim kemarau lebih terasa
Di Indonesia, El Nino kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko musim kering dan berkurangnya curah hujan.
Suhu udara meningkat
Pemanasan laut dan perubahan sirkulasi atmosfer dapat ikut memengaruhi kondisi suhu di berbagai kawasan.
Risiko kekeringan dan kebakaran
Kondisi yang lebih kering dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air serta risiko kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, kekuatan El Nino tidak bisa hanya dinilai dari satu angka suhu harian. Para ilmuwan tetap melihat berbagai indikator atmosfer dan laut sebelum menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap pola cuaca global.
Karena itu, perkembangan El Nino kali ini masih perlu dipantau. Yang membuatnya menarik sekaligus mengkhawatirkan bukan hanya suhunya yang tinggi, tetapi juga seberapa cepat pemanasan tersebut terjadi. Bagi masyarakat, terutama di wilayah yang rentan kekeringan, informasi dari lembaga meteorologi tetap menjadi acuan paling penting untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca.
