Apakah Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau Masih Ada di Jakarta? Begini Kata BMKG

Selasa 08 Sep 2026, 10:33 WIB
BMKG sebut jumlah abu vulkanik di Jakarta mulai menurun, namun sayangnya sudah membaur dengan polusi sehingga tetap berbahaya. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)
BMKG sebut jumlah abu vulkanik di Jakarta mulai menurun, namun sayangnya sudah membaur dengan polusi sehingga tetap berbahaya. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

POSKOTA.CO.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 menyebabkan abu vulkanik hasil letusan menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Lampung, Banten, Jakarta hingga Jawa Barat.

Akibat paparan abu vulkanik, sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara. Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sejak Senin, 7 September yang diperpanjang hingga hari ini, Selasa, 8 September 2026.

Berdasarkan penuturan resmi Badan Geologi lewat akun media sosialnya, erupsi Naka Krakatau yang berlangsung terus menerus selama 25 jam telah berhenti dan digantikan dengan erupsi strombolian.

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Sudah Berhenti Atau Belum? Ini Penjelasan PVMBG dan BMKG

"Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," tulis Badan Geologi, seperti dikutip dari akun Threads @badan.geologi.

Lantas, apakah berhentinya episode panjang erupsi Gunung Anak Krakatau turut membuat abu vulkanik yang menyebar ke Jakarta ikut berhenti?

Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Ada di Jakarta?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

BMKG menyebut, abu vulkanik mulai menjauhi Gunung Anak Krakatau per hari ini, Selasa, 8 September 2026 pukul 04.00 WIB.

Baca Juga: Update Jadwal Penerbangan Bandara Soekarno-Hatta: Kembali Beroperasi Normal 8 September 2026

"Sebaran abu vulkanik GAK (Gunung Anak Krakatau) diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia," demikian keterangan resmi BMKG.

Menurut BMKG, abu vulkanik terpantau bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WB, teridentifikasi sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1,8 km) teramati ke arah Selatan-Barat Daya, mencakup Samudera Hindia Barat Laut Banten.

Meski pegerakan abu sudah menjauhi wilayah Indonesia, namun BMKG menuturkan bahwa dampak sebaran abu vulkanik tetap masih ada, salah satunya, seperti menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

"Masyarakat di wilayah yang terdampak memastikan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan instansi terkait serta memperhatikan kondisi udara serta jarak pandang," kata BMKG.

Baca Juga: Jadwal KRL Jabodetabek Berubah Lagi Hari Ini 8 September 2026, Cek Update Perjalanan yang Dibatalkan

Jumlah Abu Vulkanik di Jakarta Mulai Menurun

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun BMKG, terdapat lonjakan konsentrasi PM2.5 di Jakarta pada 5 September yang kemudian melesat tinggi pada 6 September dan mulai menurun secara perlahan pada 7 September.

BMKG menyatakan bahwa tingkat konsentrasi debu vulkanik di DKI Jakarta memang terpantau sudah mulai menurun pada hari ini, jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya.

Akan tetapi, BMKG mengungkapkan bahwa debu vulkanik sisa erupsi Anak Krakatau ternyata sudah membaur dengan polusi udara di ibu kota. Hal ini membuat partikel berbahaya masih berada di udara.

"Apalagi saat ini kita masih berada di puncak musim kemarau yang kering. Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara," jelas BMKG.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di ibu kota untuk tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk menghindari paparan partikel berbahaya yang merupakan campuran polusi dan sisa abu vulkanik.

"TETAP GUNAKAN MASKER saat beraktivitas di luar ruangan! Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa, padahal kenyataannya itu adalah "paparan ganda" yang masih bercampur dengan material debu vulkanik," pungkas BMKG.


Berita Terkait


News Update