"Kalau dari kita sendiri yang berangkat, berapa orang harusnya hari ini? Kami ada 48 jemaah. Dan memang kita batasi sebatas itu," tuturnya.
Para jemaah tersebut berasal dari sejumlah daerah di Bengkulu, termasuk Kabupaten Lebong, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Tengah.
Sambil menunggu perkembangan penerbangan, pihak travel meminta jemaah tidak terlebih dahulu kembali ke kabupaten masing-masing. Namun, mereka diperbolehkan meninggalkan bandara untuk beristirahat di rumah keluarga yang berada di Kota Bengkulu.
"Untuk dari tim handling kita di Jakarta dan tim di Jakarta, agar untuk tidak dulu pulang ke kabupaten. Kalau mau pulang istirahat di rumah, boleh istirahat di rumah, misalnya di keluarga, di dalam kota ini," jelas Junaidi.
Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penerbangan dari Soekarno-Hatta dan Halim Masih Lumpuh
Jemaah Diminta Tetap Dekat dengan Kota Bengkulu
Arahan tersebut diberikan agar jemaah bisa segera kembali ke bandara ketika penerbangan sudah mendapatkan kepastian.
"Ketika nanti misalkan penerbangan bisa kita lanjutkan, itu kita cepat, nanti sementara itu ke bandara," katanya.
Jemaah yang memilih meninggalkan bandara tetap diminta memantau komunikasi dari pihak travel. Langkah ini penting karena perubahan jadwal penerbangan dapat terjadi setelah kondisi penerbangan kembali memungkinkan.
Untuk sementara, perjalanan 48 jemaah Rasyiiqah Travel menuju Jakarta dan penerbangan lanjutan ke Tanah Suci masih menunggu perkembangan. Pihak travel juga terus berkoordinasi dengan tim di Jakarta untuk memperoleh informasi terbaru terkait penerbangan yang terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dengan kondisi yang masih berubah, jemaah diminta tetap tenang, menjaga komunikasi dengan pihak travel, dan tidak bepergian terlalu jauh dari Kota Bengkulu sampai ada kepastian keberangkatan.
