POSKOTA.CO.ID - Penulis JS Khairen menyampaikan keresahannya mengenai kondisi bencana yang terjadi di Indonesia. Melalui unggahannya, ia menyoroti persoalan mitigasi dan pencegahan bencana yang dinilai belum maksimal, terutama terhadap bencana yang sebenarnya masih bisa ditekan risikonya.
Menurut JS Khairen, masyarakat Indonesia saat ini menghadapi dua jenis persoalan sekaligus. Ada bencana yang memang tidak dapat dicegah, seperti gempa bumi dan letusan gunung, tetapi ada pula bencana yang menurutnya berkaitan erat dengan aktivitas manusia, seperti banjir, longsor, hingga kebakaran hutan.
"Gempa sama seperti letusan gunung. Tak bisa dicegah. Lain halnya longsor, banjir dan kebakaran hutan, sama-sama bisa dicegah.” tulis JS Khairen dalam unggahannya di Instagram dikutip Minggu, 9 September 2026.
Ia kemudian mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Karena itu, kehidupan masyarakat maupun kebijakan pemerintah seharusnya menyesuaikan dengan kondisi geografis tersebut.
Baca Juga: Petaling Jaya Half Marathon 2026 di Malaysia Batal Digelar, Kualitas Udara Capai Level Tidak Sehat
Kritik terhadap Pencegahan Banjir, Longsor dan Kebakaran Hutan
JS Khairen juga menyinggung persoalan kerusakan lingkungan yang dapat memperbesar risiko bencana. Ia menyoroti praktik penebangan dan pembakaran hutan yang dinilai tidak hanya merusak alam, tetapi juga berpotensi membawa dampak bagi masyarakat.
"Sayang nasib kalian, seumur usia akan hidup di tanah ini. Tanah yang tidak hanya akan terbakar dan meledak oleh alam, namun juga dibakar oleh tangan rakus manusia. Itu juga segelintir manusia saja." tulisnya
"Lagi-lagi, untuk bencana alam, kita hanya bisa pasrah sambil memaksimalkan segala yang kita punya. Entah untuk belajar, mitigasi, penanganan dan peringatan." lanjutnya
Menurutnya, bencana alam memang tidak selalu dapat dihindari. Namun, risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, penataan lingkungan, serta penanganan yang cepat ketika bencana terjadi.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Jepang yang dikenal memiliki sistem mitigasi bencana dan kesiapsiagaan gempa yang kuat.
“Di Jepang gempa kemarin, besoknya jalanan sudah kembali rapi,” tulisnya.
