Penilaian tersebut tetap bergantung pada kondisi gunung saat pemantauan dilakukan. Perubahan aktivitas vulkanik maupun bentuk tubuh gunung tetap perlu diperhatikan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Abu Vulkanik Turun?
Jika abu mulai mencapai permukiman, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi paparan.
- Tetap berada di dalam rumah. Tutup pintu, jendela, dan celah yang memungkinkan abu masuk. Matikan kipas atau pendingin yang mengambil udara dari luar.
- Gunakan respirator N95 saat harus keluar. Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan rapat. N95 efektif menyaring partikel abu, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kerapatan pemakaian.
- Lindungi mata dan kulit. Gunakan kacamata pelindung, pakaian lengan panjang, dan celana panjang. Hindari mengucek mata jika terkena abu.
- Kurangi aktivitas berkendara. Abu yang sudah mengendap dapat kembali beterbangan akibat kendaraan.
- Bersihkan abu dengan hati-hati. Gunakan kain lembap dan basahi endapan sebelum membersihkannya agar partikel tidak kembali beterbangan.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Warga Pesisir Labuan Banten Mengungsi
N95 Bukan Pelindung dari Gas Vulkanik
Satu hal yang sering luput adalah fungsi N95. Respirator ini menyaring partikel, bukan gas atau uap beracun.
Gas vulkanik tertentu bahkan tidak selalu dapat dikenali melalui bau atau warna. Karena itu, ketika muncul gejala seperti iritasi mata dan tenggorokan, pusing, sakit kepala, muntah, atau kesulitan bernapas, segera tinggalkan area yang terpapar.
Bayi, anak-anak, lansia, serta orang dengan asma maupun gangguan paru dan jantung perlu mendapat perlindungan lebih ketat.
Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu panik, tetapi juga jangan menganggap erupsi sebagai sesuatu yang bisa diabaikan. Ikuti perkembangan resmi dan jadikan arahan otoritas setempat sebagai pegangan utama.
