Gunung Anak Krakatau Erupsi, Ini 5 Cara Aman Melindungi Diri dari Abu Vulkanik

Minggu 06 Sep 2026, 09:19 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat dan memunculkan lontaran material vulkanik. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi serta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif. (Sumber: Instagram)
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat dan memunculkan lontaran material vulkanik. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi serta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif. (Sumber: Instagram)

POSKOTA.CO.ID - Dentuman dan suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, pada Jumat malam, 4 September 2026. Di tengah Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang hingga kini masih dipantau.

Aktivitas erupsi mulai teramati pada pukul 23.07 WIB. Secara visual, material yang keluar dari kawah diinterpretasikan sebagai lava fountain atau air mancur lava. Lontaran material pijar bahkan mengenai kamera pemantauan sehingga perangkat tersebut tidak dapat beroperasi.

Dalam pembaruan MAGMA Indonesia untuk periode Minggu, 6 September 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, puncak gunung dilaporkan tertutup kabut. Asap kawah juga tidak teramati.

Kondisi tersebut bukan berarti erupsi telah berhenti. Pandangan yang tertutup kabut membuat aktivitas gunung tidak dapat diamati secara visual. Status Gunung Anak Krakatau pun masih berada pada Level III atau Siaga.

Baca Juga: Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Jakarta, Bandara Soetta Ditutup Sementara

Radius 3 Kilometer dari Kawah Masih Terlarang

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, kawasan yang memisahkan pesisir Banten dan Lampung. Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif.

Area dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif masih menjadi wilayah yang harus dihindari. Larangan ini berkaitan dengan potensi lontaran batu pijar dan material vulkanik dari kawah.

Sementara itu, abu vulkanik dapat bergerak lebih jauh mengikuti arah dan kecepatan angin. Karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi langit di sekitar rumah.

Informasi dari PVMBG, BNPB, dan BPBD setempat perlu menjadi acuan utama, terutama jika abu mulai turun di permukiman.

Bagaimana dengan Risiko Tsunami?

Kekhawatiran mengenai tsunami memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Anak Krakatau. Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh gunung runtuh dan memicu tsunami yang berdampak pada pesisir Banten dan Lampung.

Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG yang dikutip BNPB pada 5 September 2026, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali masih relatif kecil dan saat evaluasi dilakukan belum dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami.


Berita Terkait


News Update