Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami? Simak Penjelasan BMKG 6 September 2026

Minggu 06 Sep 2026, 15:58 WIB
Tangkapan layar aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda sedang mengalami erupsi. (Sumber: X/@TxtdriWNI ·)
Tangkapan layar aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda sedang mengalami erupsi. (Sumber: X/@TxtdriWNI ·)

POSKOTA.CO.ID - Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda mengalami erupsi dan tercatat berstatus Level III atau Siaga, hingga Minggu, 6 September 2026.

Erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut masih berlanjut hingga laporan dibuat pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.31 WIB.

Selain erupsi yang berlangsung menerus, aktivitas gunung api tersebut juga disertai suara dentuman yang terdengar dari Pos Pantau Pasauran pada Sabtu malam, 5 September 2026.

Kondisi itu membuat masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan Selat Sunda dan wilayah pesisir, turut meningkatkan kewaspadaan.

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri tidak hanya berkaitan dengan kawasan di sekitar gunung. Sebaran abu vulkanik telah meluas dan mengganggu aktivitas penerbangan.

AirNav Indonesia bahkan memperbarui NOTAM terkait penutupan sementara ruang udara yang berdampak terhadap sejumlah bandara.

Enam bandara yang terdampak dan mengalami penutupan sementara meliputi Bandara Radin Inten di Lampung, Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Pondok Cabe di Jakarta, Bandara Budiarto Curug di Tangerang, serta Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Lantas, apakah erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu tsunami? Bagaimana hasil pemantauan BMKG terhadap kondisi laut di kawasan Selat Sunda pada 6 September 2026? Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: Petaling Jaya Half Marathon 2026 di Malaysia Batal Digelar, Kualitas Udara Capai Level Tidak Sehat

Apakah Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Tsunami?

Salah satu kekhawatiran masyarakat di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau adalah kemungkinan terjadinya tsunami.

Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari sejarah Gunung Anak Krakatau yang pernah berkaitan dengan peristiwa tsunami di Selat Sunda.

Karena itu, setiap peningkatan aktivitas gunung api di kawasan tersebut menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada Minggu, 6 September 2026, sejauh ini belum terpantau adanya tanda-tanda potensi tsunami akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, hasil pemantauan menunjukkan belum adanya anomali muka air laut di kawasan Selat Sunda.

"Hingga pukul 07.00 WIB pagi ini, belum menunjukkan adanya anomali muka air laut. Artinya potensi terjadi tsunami belum dapat kita pantau atau belum terpantau sampai saat ini melalui 20 tsunami gate yang dimiliki BMKG di sekitar Selat Sunda," ucap Faisal dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Minggu, 6 September 2026.

Baca Juga: Siapa Penulis Buku Islam ala Prabowo? Kini Kembali Viral di Media Sosial

Untuk memastikan kondisi laut tetap terpantau, BMKG tidak hanya mengandalkan satu metode pemantauan.

BMKG juga melakukan pemantauan menggunakan high frequency radar yang ditempatkan di kawasan Pantai Carita dan Tanjung Lesung.

Kedua wilayah tersebut berada di kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda.

Hasil pemantauan hingga saat laporan disampaikan belum menunjukkan adanya potensi tsunami.

"Berdasarkan pemantauan high frequency radar yang kita miliki, ini sudah di-set dalam kondisi tsunami mode. Jadi, ketika ada potensi tsunami, kita langsung dapat memantau dari jarak 150 kilometer dari tepi pantai," beber dia.

Meski belum terpantau adanya potensi tsunami, masyarakat tidak diminta untuk mengabaikan kondisi Gunung Anak Krakatau.

Warga yang berada di kawasan pesisir Selat Sunda tetap perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi resmi.

Terlebih, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan statusnya berada pada Level III atau Siaga.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

Informasi mengenai potensi tsunami sebaiknya hanya merujuk pada keterangan resmi dari lembaga yang memiliki kewenangan.

"Kami mengimbau kepada masyarakat khususnya di wilayah pesisir Selat Sunda dan yang di sekitar DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu agar tetap waspada namun tidak panik. Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti pembaruan dari BMKG, PVMBG, BNPB, serta instansi yang berwenang," jelasnya.


Berita Terkait


News Update