Randall Hartolaksono Lulusan Mana? Penemuannya soal Kulit Singkong Kini Dikembangkan untuk Karhutla

Minggu 30 Agu 2026, 17:45 WIB
Sosok Randall Hartolaksono tengah disorot usai penemuannya terkait pemanfaatan kulit singkong untuk teknologi pemadam api dikembangkan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: X/@GNFI)
Sosok Randall Hartolaksono tengah disorot usai penemuannya terkait pemanfaatan kulit singkong untuk teknologi pemadam api dikembangkan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: X/@GNFI)

POSKOTA.CO.ID - Sosok Randall Hartolaksono tengah disorot usai penemuannya terkait pemanfaatan kulit singkong untuk teknologi pemadam api dikembangkan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penelitian yang pada awalnya ditujukan untuk kebutuhan berbeda justru membawanya pada temuan yang kemudian dikembangkan menjadi teknologi pemadam api.

Kini, ketika pemanfaatan bahan berbasis kulit singkong kembali dikaitkan dengan upaya penanganan karhutla, perjalanan Randall Hartolaksono kembali menarik perhatian publik.

Lantas, Randall Hartolaksono sebenarnya lulusan mana dan bagaimana perjalanan pendidikan hingga penemuannya dikenal luas?

Berikut profil dan riwayat pendidikan Randall Hartolaksono, sang penemua teknologi pemadam api berbasis kulit singkong yang kini kembali menjadi sorotan.

Baca Juga: Curug Tilu Leuwi Opat, Surga Tersembunyi di Bandung Barat

Randall Hartolaksono Lulusan Mana?

Dilansir dari situs resmi Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Balai Tekkomdik) Daerah Istimewa Yogyakarta, Randall Hartolaksono lahir di Surabaya pada 16 Maret 1956.

Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Pangudi Luhur Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Randall sempat melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.

Namun, perjalanan pendidikannya kemudian berubah. Pada usia 18 tahun, Randall memutuskan melanjutkan pendidikan ke London untuk mendalami bidang Teknik Mesin.

Selama berada di London, Randall menempuh pendidikan di University of London.

Dia berhasil memperoleh gelar BSc dan MSc di bidang Mechanical Engineering atau Teknik Mesin.

Selain pendidikan formal, Randall juga memperluas pengetahuannya melalui berbagai pelatihan.

Dirinya mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan bidang kimia hingga pendidikan pemadam kebakaran.

Randall bahkan mengantongi dua sertifikat dari Fire Service College dan Washington Hall College, yang dikenal sebagai lembaga pendidikan pemadam kebakaran.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Randall memasuki dunia profesional. Kariernya dimulai sebagai Production Engineer di Mobil Oil Indonesia pada 1983.

Dalam perjalanan kariernya, Randall mendirikan sejumlah perusahaan, di antaranya Hart Industries Limited, Hartindo Chemicatama Industri, Newstar Holdings Singapore, dan Newstar Chemicals Malaysia.

Selain menjalankan aktivitas bisnis dan penelitian, Randall juga aktif dalam berbagai organisasi profesi internasional.

Sejumlah organisasi yang pernah dikaitkan dengan kiprahnya antara lain Institute of Mechanical Engineers (IME), National Fire Protection Association (NFPA), Fire Prevention Association (FPA), Malaysian Fire Protection Association (MFPA), dan Institute of Fire Engineers (IFE).

Baca Juga: Ribuan Warga Padati Pesona Nusantara Bekasi Keren, Diwarnai Penggalangan Dana Bencana

Awal Penelitian Kulit Singkong

Kisah penemuan Randall bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa Teknik Mesin di University of London.

Saat itu, ia tengah melakukan penelitian terhadap saripati kulit singkong yang rencananya digunakan sebagai bahan pelumas untuk engsel robot.

Penelitian tersebut kemudian menghasilkan sebuah kejadian yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Cairan hasil penelitian Randall secara tidak sengaja tumpah ke atas api.

Alih-alih memperbesar nyala api, cairan tersebut justru membuat api padam.

Peristiwa sederhana itu kemudian memunculkan rasa penasaran dalam diri Randall.

Ia tidak berhenti pada kejadian tersebut, tetapi mencoba mencari tahu kandungan yang terdapat di dalam kulit singkong dan alasan bahan tersebut dapat memengaruhi proses pembakaran.

Bersama dosen pembimbingnya, Profesor Evans, Randall kemudian melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan kimia dalam kulit singkong.

Hasil penelitian menunjukkan adanya senyawa aktif yang disebut mampu memutus reaksi kimia berantai dalam proses pembakaran.

Temuan tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi Randall untuk mengembangkan berbagai produk yang berkaitan dengan teknologi pemadam api dan perlindungan terhadap kebakaran.

Perjalanan Randall dalam mengembangkan temuannya ternyata tidak berlangsung mudah.

Gagasan dan teori yang ia kembangkan sempat mendapatkan penolakan ketika dipresentasikan dalam sebuah pertemuan ilmiah di Edinburgh University, Skotlandia, pada 1982.

Penolakan tersebut tidak membuat Randall menghentikan penelitiannya. Ia justru melanjutkan serangkaian pengujian untuk membuktikan teori yang dikembangkannya.

Setelah melalui berbagai pengujian laboratorium selama lima tahun, teori tersebut akhirnya dapat diterima dan mendapatkan pengakuan.

Dari proses panjang itu, Randall kemudian semakin serius mengembangkan teknologi berbasis temuannya.

Pengembangan tersebut menghasilkan berbagai produk, mulai dari cairan pemadam api hingga bahan pelapis tahan api yang dapat diaplikasikan pada kayu.

Kemudian, melalui proses penelitian dan pengujian, inovasi Randall tidak berhenti sebagai hasil penelitian akademis.

Produk-produk yang dikembangkan Randall memperoleh sertifikasi dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Seiring berjalannya waktu, produk tersebut mulai digunakan oleh sejumlah perusahaan besar dunia.

Beberapa nama yang disebut menggunakan inovasi tersebut antara lain Ford, Petronas, Proton, dan Telecom Malaysia.

Meski berhasil membawa temuannya hingga mendapat pengakuan internasional, perjalanan tersebut membutuhkan waktu yang panjang.

Randall bahkan pernah menyoroti bahwa proses mendapatkan pengakuan dan sertifikasi terhadap sebuah inovasi membutuhkan serangkaian pengujian.

Salah satu produknya, AF11E, menjadi contoh perjalanan panjang tersebut.

Produk yang ditemukan pada 1983 itu baru memperoleh sertifikasi standar dari Amerika Serikat pada 2000.


Berita Terkait


News Update