JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta mencatatkan 1.163 kebakaran melanda wilayah ibu kota sepanjang Januari hingga 25 Agustus 2026. Dari total insiden tersebut, masalah instalasi listrik pemicu utama dengan 632 kejadian (54,34 persen).
Data Gulkarmat menunjukkan lonjakan kasus tertinggi terjadi pada Juli 2026 yang bertepatan dengan puncak musim kemarau, yaitu mencapai 217 kejadian (18,66 persen).
"Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan seiring fenomena kemarau panjang akibat El Nino, serta memeriksa kembali instalasi listrik di hunian masing-masing," kata Kepala Dinas Gulkarmat Jakarta, Bayu Meghantara, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Berdasarkan pemetaan wilayah, Jakarta Barat mencatatkan angka kebakaran tertinggi di Jakarta, yakni 346 kejadian (29,75 persen). Posisi berikutnya diikuti oleh:
Baca Juga: Kemarau Ekstrem Landa Jakarta, BPBD Waspadai Kebakaran dan Krisis Air Bersih
- Jakarta Timur: 290 kejadian
- Jakarta Selatan: 243 kejadian
- Jakarta Utara: 156 kejadian
- Jakarta Pusat: 128 kejadian
Dilihat dari objek yang terbakar, bangunan perumahan atau pemukiman warga menjadi sektor yang paling banyak terdampak, yakni mencapai 347 kejadian (29,84 persen). Hal ini menegaskan pentingnya pemeriksaan rutin terhadap kelayakan kabel, kelonggaran stop kontak, serta penggunaan alat elektronik berdurasi lama di lingkungan rumah.
Meski lonjakan kasus bertepatan dengan kemarau panjang, Gulkarmat menegaskan bahwa kelalaian dan gangguan sistem kelistrikan tetap menjadi pemicu dominan di lapangan.
Di sisi lain, Bayu mengapresiasi kesiapsiagaan warga yang turut membantu penanganan awal sebelum petugas pemadam tiba di lokasi. Dari seluruh laporan, 160 kejadian berhasil dipadamkan secara mandiri oleh masyarakat dengan warga Jakarta Barat memberikan kontribusi pemadaman swadaya terbesar sebanyak 75 kejadian (46,88 persen).
Gulkarmat mengimbau warga Jakarta terus memperkuat deteksi dini bahaya kebakaran di lingkungan masing-masing guna meminimalkan risiko kerugian harta maupun jiwa selama musim kemarau.
