Alih-alih memperbesar nyala api, cairan tersebut justru membuat api padam.
Peristiwa sederhana itu kemudian memunculkan rasa penasaran dalam diri Randall.
Ia tidak berhenti pada kejadian tersebut, tetapi mencoba mencari tahu kandungan yang terdapat di dalam kulit singkong dan alasan bahan tersebut dapat memengaruhi proses pembakaran.
Bersama dosen pembimbingnya, Profesor Evans, Randall kemudian melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan kimia dalam kulit singkong.
Hasil penelitian menunjukkan adanya senyawa aktif yang disebut mampu memutus reaksi kimia berantai dalam proses pembakaran.
Temuan tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi Randall untuk mengembangkan berbagai produk yang berkaitan dengan teknologi pemadam api dan perlindungan terhadap kebakaran.
Perjalanan Randall dalam mengembangkan temuannya ternyata tidak berlangsung mudah.
Gagasan dan teori yang ia kembangkan sempat mendapatkan penolakan ketika dipresentasikan dalam sebuah pertemuan ilmiah di Edinburgh University, Skotlandia, pada 1982.
Penolakan tersebut tidak membuat Randall menghentikan penelitiannya. Ia justru melanjutkan serangkaian pengujian untuk membuktikan teori yang dikembangkannya.
Setelah melalui berbagai pengujian laboratorium selama lima tahun, teori tersebut akhirnya dapat diterima dan mendapatkan pengakuan.
Dari proses panjang itu, Randall kemudian semakin serius mengembangkan teknologi berbasis temuannya.
Pengembangan tersebut menghasilkan berbagai produk, mulai dari cairan pemadam api hingga bahan pelapis tahan api yang dapat diaplikasikan pada kayu.
