BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Hampir dua tahun bertahan dengan tenaga terbatas. Peternakan sapi Dago Dairy memutuskan mengakhiri operasionalnya setelah hampir dua tahun menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja. Keputusan tersebut menjadi akhir dari perjalanan usaha peternakan yang selama ini dijalankan oleh keluarga Mark Hallet dan istrinya, Yanti.
Kabar tersebut disampaikan melalui akun Instagram @dago_dairy pada 27 September. Dalam video yang dibagikan, Mark Hallet atau yang akrab disapa Mr. Mark bersama sang istri menjelaskan alasan di balik keputusan untuk menghentikan kegiatan peternakan.
"Kami sedang menutup Dago Dairy. Selama dua tahun kami tidak dapat mendapatkan pekerja pertanian. Selain itu, dua putra kami juga tidak ingin mengambil alih pertanian. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung kami." dikutip Sabtu, 29 Agustus 2026.
Masalah tenaga kerja menjadi salah satu persoalan yang terus mereka hadapi. Selama hampir dua tahun, Dago Dairy berusaha bertahan dengan jumlah pekerja yang terbatas, sementara pekerjaan di peternakan sapi membutuhkan tenaga dan perhatian setiap hari.
Baca Juga: Gunung Merapi Erupsi Jumat Malam, Awan Panas Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat Daya
Kekurangan Pekerja Jadi Tantangan Utama Dago Dairy
Mengelola peternakan sapi bukan pekerjaan yang bisa berhenti begitu saja ketika tenaga kerja berkurang. Pemberian pakan, perawatan sapi, kebersihan kandang hingga berbagai aktivitas lain harus dilakukan secara rutin.
Situasi inilah yang kemudian membuat operasional Dago Dairy semakin sulit dipertahankan. Ketika jumlah pekerja tidak mencukupi, sebagian pekerjaan harus ditangani langsung oleh pemilik dengan tenaga yang terbatas.
Dalam video tersebut, Mr. Mark dan Yanti menceritakan kondisi yang mereka alami selama menjalankan usaha. Mereka telah mencoba bertahan selama hampir dua tahun di tengah kesulitan mendapatkan orang yang bersedia bekerja di peternakan.
“Selama hampir dua tahun kami kesulitan mencari pekerja,” jelas pihak Dago Dairy dalam video yang diunggah melalui media sosial.
Persoalan tersebut pada akhirnya bukan hanya menyangkut jumlah tenaga kerja, tetapi juga keberlanjutan usaha. Peternakan membutuhkan pengelolaan yang konsisten sehingga kekurangan pekerja dalam waktu lama dapat memberikan tekanan terhadap kegiatan operasional.
Tidak Ada Penerus dari Keluarga
Keputusan menutup peternakan juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha dari sisi keluarga. Dua putra Mark dan Yanti disebut tidak memiliki keinginan untuk meneruskan bisnis peternakan sapi tersebut.
