Kenapa Hujan Turun di Jakarta saat Musim Kemarau? Ternyata Ini Penjelasannya

Kamis 20 Agu 2026, 14:49 WIB
Ilustrasi - Penyebab hujan bisa turun di Jakarta meski musim kemarau. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)
Ilustrasi - Penyebab hujan bisa turun di Jakarta meski musim kemarau. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

POSKOTA.CO.ID - Hujan yang sempat turun di sejumlah wilayah Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026 siang hari memantik rasa penasaran masyarakat.

Pasalnya, hujan turun di Jakarta ketika musim kemarau sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia, tak terkecuali DKI Jakarta.

Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, jika bulan Agustus-September 2026 merupakan puncak musim kemarau di Indonesia dengan kondisi yang lebih kering.

Lantas, adakah penjelasan ilmiah mengenai penyebab hujan turun di Jakarta saat musim hujan?

Baca Juga: Daftar Kasus Kecelakaan KRL di Jabodetabek Sepanjang 2026, Terbaru Insiden di Tebet dan Tangerang

Kenapa Hujan Bisa Turun saat Musim Hujan?

Mengutip dari website resmi BMKG, meski musim kemarau tengah berlangsung, namun bukan berarti hujan tidak dapat turun sama sekali. Hujan masih tetap bisa turun saat musim kemarau karena disebabkan oleh dinamika atmosfer lokal.

Hal yang perlu dipahami oleh masyarakat adalah musim kemarau bukanlah musim tanpa hujan, melainkan curah hujan di suatu tempat kurang dari 50 mm/dasarian dan terjadi minimal tiga dasarian berturut-turut.

Jadi, tidak heran jika turun hujan di suatu wilayah walaupun kondisinya sedang memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Hendak Balap Liar di Duren Sawit, Lima Pemuda Digelandang Polisi

Pramono Klaim Hujan di Jakarta karena Modifikasi Cuaca

Sementara itu, Gubenur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut hujan yang mengguyur sebagian wilayah ibu kota pada Rabu, 19 Agustus 2026 merupakan hasil modifikasi cuaca yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Pemprov DKI terus berupaya membuat hujan buatan dengan memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Langkah ini dilakukan lewat kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan BMKG.

"Berkali-kali saya sampaikan bahwa pemerintah DKI Jakarta, ketika begitu ada awan, sekecil apa pun awan itu, akan kita buat untuk hujan buatan," kata Pramono

Pramono mengungkapkan, kondisi awan yang terbatas membuat hujan di Jakarta belum turun secara maksimal seperti yang diharapkan.

Baca Juga: Bawa Celurit Buat Tawuran, 2 Pemuda di Cipayung Dibekuk Polisi 

"Walaupun ini kan kelihatan bangetlah, bukan sesuatu hujan yang seperti pada musim hujan. Ini adalah hujan yang memang ada modifikasi cuaca,"

Sebelumnya, Pramono memang sempat membeberkan rencana Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan modifikasi cuaca yang memicu turunnya hujan di ibu kota.

Upaya ini dilakukan untuk mengatasi masalah kondisi polusi di Jakarta yang terus memburuk akibat hujan yang sudah tidak turun di ibu kota selama beberapa Minggu.

Bagaimana Cara Kerja Hujan Buatan?

Tak sedikit masyarakat yang belum mengetahui cara kerja hujan buatan saat musim kemarau hingga bisa turun hujan di suatu wilayah .

Mengutip dari laman resmi Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN), proses modifikasi cuaca dilakukan lewat kerja sama antara BRIN, BMKG, dan TNI AU.

Cara kerja hujan buatan berfokus pada upaya mendorong awan agar proses pembentukan hujan bisa terjadi lebih cepat. Langkah ini dilakukan dengan penyemaian garam (NaCl).

Berikut ini proses modifikasi cuaca untuk membuat hujan buatan saat musim kemarau.

  • BMKG memiliki peran utama untuk menyediakan data dan informasi mengenai cuaca, awan, dan arah angin. Nantinya, radar cuaca BMKG akan menginformasikan keberadaan awan target dan arah kekuatan angin ke pilot.
  • Kemudian, TNI AU yang menerima informasi tersebut akan membawa pesawat Casa berisi muatan garam (NaCl) yang akan menyemai awan hujan target. Posisi pesawat selalu berada di antara arah angin dan awan hujan target.
  • Ada beberapa bahan yang biasanya digunakan dalam proses ini, yaitu zat glasiogenik seperti argentium iodida atau perak iodida. Selain itu, ada juga zat higroskopis seperti garam, CaC12, dan urea.
  • Pesawat Casa TNI AU bertanggung jawab menaburkan bahan kimia tersebut di titik lokasi yang sudah ditentukan untuk membantu mempercepat proses kondensasi awan.
  • Partikel garam (NaCl) dan bahan kimia lainnya yang ditaburkan berfungsi sebagai tempat berkumpulnya uap air. Jika kelembapan semakin terkumpul dan awan hujan berwarna abu-abu sudah terbentuk, maka butir air akan terbentuk dan turun menjadi tetesan air hujan.

Berita Terkait


News Update