"Dahulu dia yang ngasih uang buat makan saya sama keluarga, tapi sekarang mah sudah enggak," ucapnya.
Tanpa pekerjaan dan upah harian, lansia itu terpaksa menggantungkan bertahan hidup dari kepedulian sesama. Bantuan sukarela dari tetangga dan kerabat menjadi satu-satunya penyangga agar dapur rumahnya tetap hidup.
"Kalau sedang tidak punya uang, dari tetangga sama saudara yang ngasih," tuturnya.
Kisahnya mencerminkan dampak berantai dari bencana kemarau panjang. Ketiadaan air tidak hanya mematikan tanaman, tetapi juga menghentikan roda pekerjaan buruh tani harian yang bergantung pada siklus tanam dan panen.
Di usia senjanya, Murnah kini menaruh harapan besar kepada pemerintah agar memberikan perhatian dan uluran tangan bagi warga miskin yang terdampak kekeringan.
"Saya ingin mendapat bantuan. Kalau bisa bantuan beras dari pemerintah," pungkasnya.
