Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Ketua MPR, Ahmad Muzani menutup pidato pengantar sidang tahunan MPR RI 2026 dengan membacakan tiga buah pantun. Pantun terakhir yang dibacakan sbb: Buah Nangka Buah Alpukat, Manis Rasanya Bikin Terpikat, Ini Pesan Untuk Seluruh Rakyat , Mari Bersatu Jangan Saling Hujat.
Seperti diberitakan, Sidang Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026, digelar di Gedung Parlemen Jakarta,Jumat,14 Agustus 2026 dengan agenda penyampaian laporan kinerja lembaga negara dan capaian pembangunan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sementara dalam rapat paripurna, Presiden Prabowo akan menyampaikan keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027.
“Menarik juga pantun Pak Muzani ya. Ini ajakan simpatik untuk tidak saling mencela dan menghujat,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Dipraktikkan
“Sebelumnya dalam pidatonya, Ketua MPR juga mengajak masyarakat kembali memahami pentingnya etika dalam berdemokrasi,” tambah Yudi.
“Menurut Pak Muzani, demokrasi tidak akan semakin kuat jika kebebasan berbicara justru digunakan untuk mencela. Sebaliknya, demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab. Jika kemerdekaan bicara disampaikan dengan argumentasi, dan jika perbedaan tidak dijadikan alasan penghinaan," urai mas Bro.
“Acap mencuat pendapat perbedaan itu menyatukan bukan memecah belah. Indonesia disatukan karena keberagaman.Itu sejarah perjuangan bangsa, fakta yang tidak terbantahkan,” kata Heri.
“Ada yang berpendapat persamaan itu anugerah, perbedaan sebagai berkah. Karena beragam perbedaan, kita bisa saling kenal satu sama lain, dan saling melengkapi sehingga menjadi kuat,” jelas mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Keterwakilan Perempuan, Tak Sebatas Angka
“Artnya perbedaan hendaknya menjadi alat pemersatu, bukan pemecah belah. Begitu juga perbedaan politik adalah keniscayaan, tetapi bulan lantas kita terpecah belah.” kata Heri.
“Aspirasi dan sikap politik boleh beda, itu sah – sah saja. Meski beda parpol bukan lantas melunturkan jiwa dan semangat nasionalisme kita bersama.Justru perbedaan untuk membangun kebersamaan mewujudkan cita – cita kemerdekaan,” ujar Yudi.
“Sidang tahunan MPR bukan sekadar upacara konstitusional ,tetapi upaya kian meneguhkan janji kepada negara. Janji bahwa kemerdekaan akan terus kita jaga bersama, termasuk janji bahwa perbedaan politik tidak akan memecah persaudaraan dan kebangsaan,” urai mas Bro.
“Itu pula yang telah diteladankan oleh para pendiri negeri yang beragam latar belakang. Mereka berdialog, berdebat karena adanya perbedaan sikap dalam merumuskan keputusan, tetapi begitu bicara bicara kepentingan nasional segala ego dan perbedaan luluh melebur menjadi satu kepentingan bersama, yakni NKRI ,” ujar Heri.
