BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Eiger Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 jadi ajang adu kemampuan para pemanjat tebing terbaik di EIGER Adventure Flagship Store, Jalan Sumatra, Kota Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026.
Sebanyak 200 atlet nasional hingga dunia turun langsung dalam kompetisi yang mempertandingkan sejumlah kategori. Dari sekian nama, Putra Tri Ramadani alias Srondeng menjadi sorotan dalam turnamen tersebut.
Atlet panjat tebing Indonesia itu baru saja mengukir prestasi internasional dengan meraih medali emas nomor Lead World Climbing Series di Prague, Republik Ceko pada Juni 2026.
Prestasi tersebut semakin menegaskan posisi atlet Indonesia dalam persaingan panjat tebing dunia. Srondeng bahkan mampu mengungguli sejumlah pemanjat papan atas dunia, termasuk Alberto Gines Lopez, Neo Suzuki, dan Sorato Anraku.
Baca Juga: Polytron Hadir di Indonesia Open 2026, Tampilkan Mobil Listrik G3+ Series di Turnamen BWF Super 1000
Kini, aksinya kembali bisa disaksikan langsung di Tanah Air. Srondeng turun di nomor Lead EISCC 2026 dan harus menghadapi sejumlah atlet papan atas nasional maupun internasional.
Persaingan juga diramaikan Alma Ariella, rising star nomor Lead putri, Sukma Lintang, peringkat 18 World Cup Wujiang 2025; Raji’ah Sallsabillah, peringkat empat Olimpiade Paris 2024, Rahmad Adi, juara IFSC World Cup Chamonix 2023, serta Raharjati Nursamsa, juara World Cup Jakarta 2023 dan Krakow 2025.
Kehadiran para atlet tersebut menambah semarak EISCC ke-17 yang kini bukan sekadar ajang kompetisi rutin saja. Lintasan panjat menjadi tempat pembuktian kemampuan, mulai dari kekuatan fisik, teknik, ketahanan hingga kemampuan memecahkan persoalan di jalur pemanjatan.
Ketua Pelaksana EISCC 2026, Nara Witaraga mengatakan, perkembangan panjat tebing Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin pesat. Hal itu terlihat dari meningkatnya minat atlet, komunitas, klub hingga sekolah panjat untuk mengikuti kompetisi.
Baca Juga: Forwot Genap 23 Tahun, Rayakan HUT dengan Turnamen Padel dan Perkuat Sinergi Industri Otomotif
"Atlet nonprofesional pun datang dari lokasi yang jauh. Komunitas panjat, klub panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya," kata Nara, Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan olahraga panjat tebing tidak lagi hanya digeluti atlet profesional. Kompetisi juga menjadi ruang bagi pemanjat pemula dan komunitas untuk menguji kemampuan sekaligus meningkatkan pengalaman bertanding.
Selain nomor utama, EISCC 2026 juga mempertandingkan Speed Rookie untuk mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge bagi peserta non-atlet, serta Fun Boulder.
Untuk diketahui, perjalanan EISCC juga tidak terlepas dari perkembangan olahraga panjat tebing Indonesia. Kompetisi yang mulai digelar sejak 2001 itu telah melahirkan talenta-talenta terbaik.
Salah seorang pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Mamay S. Salim menyebut, perjalanan tersebut berawal dari perkembangan kegiatan panjat tebing dan ekspedisi pada era 1980-an.
Kini, olahraga tersebut telah berkembang jauh. Indonesia bahkan memiliki sederet atlet yang mampu bersaing di level dunia.
Baca Juga: Turnamen Padel BNN 2026 Diramaikan Atlet Mancanegara
"Salah satu pencapaian terbesar ditorehkan Veddriq Leonardo yang merebut medali emas untuk Indonesia pada Olimpiade Paris 2024," ujarnya.
Ia melanjutkan, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa, panjat tebing Indonesia telah berkembang dari sekadar olahraga komunitas menjadi cabang olahraga yang mampu melahirkan juara dunia dan peraih medali Olimpiade.
"EISCC ke-17 pun menjadi panggung penting bagi generasi berikutnya untuk menunjukkan kemampuan mereka," ucapnya.
Menurutnya, dengan hadirnya Srondeng dan para pemanjat papan atas lainnya, perhatian pencinta olahraga kini tertuju pada dinding panjat.
"Ini jadi daya tarik tersendiri Nn ya. Jadi mereka (peserta), tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga berusaha mencatatkan nama di tengah persaingan panjat tebing Indonesia yang semakin kompetitif," pungkasnya.
