Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan olahraga panjat tebing tidak lagi hanya digeluti atlet profesional. Kompetisi juga menjadi ruang bagi pemanjat pemula dan komunitas untuk menguji kemampuan sekaligus meningkatkan pengalaman bertanding.
Selain nomor utama, EISCC 2026 juga mempertandingkan Speed Rookie untuk mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge bagi peserta non-atlet, serta Fun Boulder.
Untuk diketahui, perjalanan EISCC juga tidak terlepas dari perkembangan olahraga panjat tebing Indonesia. Kompetisi yang mulai digelar sejak 2001 itu telah melahirkan talenta-talenta terbaik.
Salah seorang pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Mamay S. Salim menyebut, perjalanan tersebut berawal dari perkembangan kegiatan panjat tebing dan ekspedisi pada era 1980-an.
Kini, olahraga tersebut telah berkembang jauh. Indonesia bahkan memiliki sederet atlet yang mampu bersaing di level dunia.
Baca Juga: Turnamen Padel BNN 2026 Diramaikan Atlet Mancanegara
"Salah satu pencapaian terbesar ditorehkan Veddriq Leonardo yang merebut medali emas untuk Indonesia pada Olimpiade Paris 2024," ujarnya.
Ia melanjutkan, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa, panjat tebing Indonesia telah berkembang dari sekadar olahraga komunitas menjadi cabang olahraga yang mampu melahirkan juara dunia dan peraih medali Olimpiade.
"EISCC ke-17 pun menjadi panggung penting bagi generasi berikutnya untuk menunjukkan kemampuan mereka," ucapnya.
Menurutnya, dengan hadirnya Srondeng dan para pemanjat papan atas lainnya, perhatian pencinta olahraga kini tertuju pada dinding panjat.
"Ini jadi daya tarik tersendiri Nn ya. Jadi mereka (peserta), tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga berusaha mencatatkan nama di tengah persaingan panjat tebing Indonesia yang semakin kompetitif," pungkasnya.
