Harga Daging Sapi di Pasar Parung Tembus Rp150 Ribu, Pedagang Keluhkan Omzet Anjlok hingga Sisa Separuh

Jumat 14 Agu 2026, 16:24 WIB
Yanah, 54 tahun, ibu rumah tangga, warga Pengasinan Depok,  mengeluhkan harga daging sapi tinggi di pasar tradisional. Dan pedagang daging keluhkan omset turun drastis akibat sepi pembeli. (Sumber: Pos Kota/ Angga)
Yanah, 54 tahun, ibu rumah tangga, warga Pengasinan Depok,  mengeluhkan harga daging sapi tinggi di pasar tradisional. Dan pedagang daging keluhkan omset turun drastis akibat sepi pembeli. (Sumber: Pos Kota/ Angga)

BOGOR, POSKOTA.CO.ID - Harga daging sapi di Pasar Raya Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melonjak hingga Rp150 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat menurun dan omzet pedagang daging sapi ikut merosot drastis.

Sejumlah pedagang mengaku terpaksa menekan keuntungan agar daging tetap terjual. Bahkan, pembeli yang biasanya membeli satu kilogram kini mengurangi jumlah belanja menjadi seperempat hingga seperlima kilogram.

Basir, 48 tahun, pedagang daging sapi potong segar di belakang Pasar Parung, Jalan H Mawi, mengatakan harga daging saat ini berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

Menurut dia, dirinya memilih menjual daging Rp140 ribu per kilogram agar tetap bisa menarik pembeli. Dengan harga tersebut, keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp2 ribu per kilogram.

Baca Juga: Pohon Tumbang di Jalan Tegar Beriman Bogor, 1 Pengendara Tewas Tertimpa

“Kalau dijual Rp150 ribu per kilo, pembeli pada kabur. Dijual Rp140 ribu sudah untung tipis, cuma Rp2 ribu,” kata Basir kepada Pos Kota, Jumat, 14 Agustus 2026.

Basir menuturkan, kenaikan harga daging sapi sudah terjadi sejak setelah Idul Adha 2025. Harga yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp120 ribu per kilogram kini kembali melonjak.

Saat harga masih normal, Basir mengaku mampu menjual sekitar 30 kilogram daging sapi dalam sehari. Namun, ketika harga mencapai Rp140 ribu-Rp150 ribu per kilogram, penjualannya turun menjadi sekitar 14 kilogram per hari.

“Kalau harga normal bisa habis 30 kilogram. Sekarang paling cuma sanggup menjual 14 kilogram dengan untung kecil,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Bogor Fokus Benahi Hulu Sungai untuk Basmi Ikan Sapu-Sapu dari Ekosistem

Ia menjelaskan, daging sapi yang diperolehnya dari tempat pemotongan atau jagal di wilayah Bojongsari dibanderol sekitar Rp138 ribu per kilogram. Karena itu, harga jual kepada konsumen hanya bisa ditekan menjadi Rp140 ribu per kilogram.

Basir menduga kenaikan harga terjadi karena pasokan sapi dari pengepul asal Karawang kepada jagal berkurang. Kondisi tersebut membuat harga daging ikut terdorong naik.

“Banyak pelanggan yang mau beli daging dengan harga Rp140 ribu per kilo terkejut. Yang biasanya beli satu kilo sekarang hanya beli seperempat sampai seperlima kilo,” tuturnya.

Baca Juga: Pria di Bogor Ditangkap Edarkan dan Sembunyikan Obat Keras dari Yayasan Majelis

Omzet Pedagang Turun dari Rp8 Juta Menjadi Rp2 Juta-Rp3 Juta

Keluhan serupa disampaikan Rudi, 42 tahun, pedagang daging sapi yang telah berjualan di Pasar Parung bersama istrinya, Rina, selama sekitar 10 tahun.

Rudi mengatakan, harga daging sapi tahun ini menjadi salah satu yang tertinggi selama dirinya berjualan. Ia menjual daging dengan harga Rp140 ribu-Rp150 ribu per kilogram.

Menurut Rudi, harga Rp150 ribu membuat konsumen enggan membeli. Sementara ketika harga ditekan menjadi Rp140 ribu, keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp2 ribu per kilogram.

“Kalau buka harga Rp150 ribu per kilo, pembeli tidak membeli karena mahal. Kalau Rp140 ribu ada yang beli, tapi untungnya tipis, sekitar Rp2 ribu per kilogram,” kata Rudi.

Baca Juga: Polisi Gagalkan Peredaran 9 Ton Daging Sapi Kedaluwarsa Jelang Idul Fitri, 4 Tersangka DItangkap

Saat harga tinggi, Rudi hanya mampu mengambil sekitar 15 kilogram daging dari jagal. Padahal, ketika harga stabil di kisaran Rp110 ribu-Rp120 ribu per kilogram, ia bisa mengambil sekitar 30 kilogram.

Jika kondisi pasar sedang ramai, penjualan bahkan dapat mencapai 50 kilogram per hari.

Penurunan volume penjualan tersebut berdampak langsung terhadap omzet. Rudi yang biasanya memperoleh omzet hingga Rp8 juta per hari, kini hanya mendapatkan sekitar Rp2 juta-Rp3 juta.

“Omzet sehari biasanya bisa tembus Rp8 juta. Dalam kondisi seperti ini paling banyak Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari. Minat beli berkurang,” ungkapnya.

Baca Juga: Pramono Pastikan Stok Daging Sapi Aman dan Harga Tetap Stabil Selama Ramadhan

Rudi menyebut sebelum Idulfitri, harga daging sapi masih berada di sekitar Rp100 ribu per kilogram. Ia berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga kebutuhan pokok, termasuk daging sapi.

Menurutnya, harga daging sapi di Pasar Parung masih tergolong lebih murah dibandingkan sejumlah wilayah lain. Berdasarkan informasi yang diterimanya, harga daging di wilayah Bogor sudah mencapai sekitar Rp160 ribu per kilogram, sedangkan di Depok sekitar Rp150 ribu per kilogram.

“Banyak masyarakat teriak. Warga yang ekonominya pas-pasan semakin tercekik dengan kenaikan harga daging di pasaran,” katanya.

Warga Terpaksa Kurangi Belanja Daging

Kenaikan harga daging sapi juga dirasakan langsung masyarakat. Yanah, 54 tahun, warga Pengasinan, Sawangan, Kota Depok, mengaku harga daging yang belum lama ini masih sekitar Rp125 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp140 ribu.

Yanah datang ke Pasar Parung karena berencana membeli daging untuk kebutuhan acara Maulid. Namun, tingginya harga membuatnya mengurangi jumlah pembelian.

“Rencananya mau ada acara Maulidan, jadi mau masak-masak. Saat mau beli daging di Pasar Parung ternyata harganya tinggi. Tetap beli, tapi cuma satu kilo,” ujar Yanah.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.

“Berharap harga-harga dapat turun, stabil, ekonomi membaik dan tidak ada kenaikan harga, termasuk daging sapi,” pungkasnya.


Berita Terkait


News Update