Sungai Cihaur Berubah Merah dan Bau Menyengat, DLH KBB Berdalih Baru Tahu

Selasa 11 Agu 2026, 10:30 WIB
Kondisi aliran Sungai Cihaur di Kampung Pangkalan, RT 03/13, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Pos Kota/Gatot Poedji Utomo)
Kondisi aliran Sungai Cihaur di Kampung Pangkalan, RT 03/13, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Pos Kota/Gatot Poedji Utomo)

BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Sungai Cihaur di Kampung Pangkalan, RT 03/13, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diduga tercemar limbah industri.

Ironisnya, kondisi sungai yang disebut warga sudah memprihatinkan itu justru diakui baru diketahui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB.

Air sungai terlihat berubah warna menjadi merah, dipenuhi busa dan mengeluarkan bau menyengat. Bahkan, warga mengaku aliran limbah yang masuk ke sungai terkadang bersuhu panas hingga tampak seperti mengeluarkan kepulan.

Namun, di tengah kondisi tersebut, DLH KBB mengaku belum menerima laporan resmi mengenai dugaan pencemaran Sungai Cihaur.

Baca Juga: Sungai Cihaur Berubah Merah dan Berbusa, Limbah Industri Diduga jadi Biang Keladi

Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Hidup DLH KBB, Ilmi Royan Galih Surya, bahkan mengaku baru mengetahui persoalan tersebut setelah kondisi Sungai Cihaur menjadi sorotan.

"Saya terus terang baru tahu, karena belum ada pengaduan yang masuk," kata Galih kepada Pos Kota, Selasa, 11 Agustus 2026.

Dalih belum adanya pengaduan resmi itu membuat DLH KBB disebut seolah baru bergerak setelah dugaan pencemaran mencuat ke publik.

Meski begitu, DLH KBB memastikan bakal menerjunkan tim pengawas ke lokasi. Pemeriksaan dilakukan untuk memetakan kondisi sungai sekaligus mencari sumber limbah yang diduga masuk ke aliran Sungai Cihaur.

Baca Juga: DLH Jakarta Ajak Pelaku Usaha Kuliner Berperan Aktif Cegah Pencemaran Lingkungan

"Kami akan mengirimkan tim pengawas untuk bisa ke lokasi guna memetakan. Dari lokasi itu yang mencemari siapa akan ditelusuri. Ini akan segera sebagai dasar tindakan kita selanjutnya," ujarnya.

Galih mengatakan, hasil pemetaan tim pengawas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah terhadap pihak yang diduga menjadi sumber pencemaran.

DLH, lanjutnya, dapat melakukan pengawasan maupun pembinaan terhadap pelaku kegiatan yang terbukti atau diduga melakukan pencemaran.

"Nanti dari hasil pemetaan oleh tim pengawas PPLH, kami akan coba lakukan tindakan berupa pengawasan atau pembinaan kepada pelaku kegiatan diduga melakukan pencemaran," katanya.

Sementara itu, kondisi Sungai Cihaur sebelumnya telah menjadi perhatian warga. Berdasarkan pantauan Pos Kota, terlihat cairan berwarna merah mengalir dari sebuah saluran pembuangan berukuran besar di sisi sungai.

Saluran tersebut tampak tertanam di bawah tanah dan mengalirkan cairan langsung menuju badan Sungai Cihaur.

Tak hanya berwarna merah, aliran tersebut juga menghasilkan busa dan menimbulkan aroma tidak sedap. Kondisi ini menimbulkan dugaan kuat adanya limbah yang masuk ke aliran sungai.

Warga juga mengeluhkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Populasi ikan disebut terus menurun sejak kondisi sungai berubah.

Kekhawatiran juga dirasakan para petani yang selama ini memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan pengairan tanaman. Mereka khawatir air yang diduga tercemar tersebut justru membawa dampak terhadap lahan pertanian.

Kini, warga menunggu langkah nyata DLH KBB. Jangan sampai dugaan pencemaran terus berlangsung sementara pengawasan baru dilakukan setelah persoalan tersebut ramai menjadi sorotan publik.


Berita Terkait


News Update