Korban disebut mempertanyakan mengapa kedua anaknya dikenalkan kepada perempuan yang diduga memiliki hubungan dengan mantan suaminya.
"Anak-anak bilang, 'Mami, Abang dibawa kenalan sama cewek Papi,'" ujar Ica menirukan ucapan keponakannya.
Tak hanya persoalan keluarga, Winda juga disebut sempat mengeluhkan kesulitan ekonomi yang dialaminya.
"Terus Kakak cerita, 'Aku juga sedih, aku cuma dikasih uang Rp10 ribu, sedangkan aku disuruh untuk jemput anak-anak. Lalu, ada bensin, tidak ada apa,'" kenangnya.
Dia menyebut, ketika Winda mencoba meminta bantuan kepada Brigadir IH, permintaan tersebut justru diarahkan kepada orang tua mantan suaminya.
"Kata Kakak, 'Ya tidak bisa lah saya minta, itu kan mertua. Maunya dari kamu kalau meminta,'" tambah Ica.
Pihak keluarga pun masih meragukan dugaan bunuh diri sebagaimana informasi awal yang mereka terima.
Pasalnya, Ica mengaku menerima kabar meninggalnya sang kakak melalui sambungan telepon yang melibatkan Brigadir IH dan ayah mereka.
"Yang disampaikan, 'Dek, kamu tenang. Tenang kenapa Bang? Kamu berpikir jernih, kita selamatkan anak-anak dua-dua,' katanya. 'Iya Bang, kita harus selamatkan anak-anak. Ada apa yang terjadi?' 'Iya Kakakmu sudah tidak ada lagi. Sudah diambilnya pistol itulah yang terjadi. Dia udah pergi meninggalkan kita selamanya," bebernya.
Saat menerima kabar tersebut, Ica sedang berada di Nias sehingga baru dapat berangkat ke Medan pada keesokan harinya.
Setibanya di Medan, Ica melihat jenazah kakaknya di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
Di sana, dirinya mengaku menemukan sejumlah luka yang menurutnya tidak biasa sehingga menambah keraguan keluarga terhadap dugaan bunuh diri.
