Waspada Super El Nino 2026, Kemarau Diprediksi Lebih Lama

Kamis 06 Agu 2026, 20:48 WIB
Ilustrasi kondisi musim kemarau saat fenomena Super El Nino 2026 yang diprediksi memicu cuaca lebih panas, kekeringan, dan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. (ist.)
Ilustrasi kondisi musim kemarau saat fenomena Super El Nino 2026 yang diprediksi memicu cuaca lebih panas, kekeringan, dan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. (ist.)

"Super El Nino telah terbentuk dan diprediksi memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan El Nino sebelumnya," kata Erma Yulihastin.

Prediksi tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih merata.

Meski demikian, tidak semua daerah diperkirakan mengalami kondisi yang sama. Beberapa wilayah diprediksi masih berpeluang memperoleh curah hujan relatif lebih tinggi dibanding daerah lain.

Wilayah yang Diprediksi Mengalami Dampak Berbeda

Secara umum, sebagian besar Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang. Namun terdapat beberapa wilayah yang diprediksi tidak mengalami kekeringan separah daerah lainnya, yaitu:

Sumatra bagian utara.

Sebagian wilayah Sulawesi.

Kalimantan bagian utara yang berbatasan dengan Malaysia dan Brunei Darussalam.

Di luar kawasan tersebut, potensi berkurangnya curah hujan diperkirakan lebih besar sehingga masyarakat perlu mewaspadai dampaknya terhadap pasokan air bersih maupun aktivitas pertanian.

Baca Juga: Pemkot dan Kejari Kota Bekasi Perkuat Dukungan untuk Olahraga Disabilitas

Dampak yang Perlu Diantisipasi

Jika intensitas Super El Nino terus menguat, sejumlah sektor diperkirakan menjadi yang paling terdampak, antara lain:

  • Musim kemarau berlangsung lebih panjang.
  • Risiko kekeringan meningkat di berbagai daerah.
  • Produksi pertanian berpotensi menurun.
  • Ketersediaan air bersih semakin terbatas.
  • Suhu udara menjadi lebih panas dari kondisi normal.
  • Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.

Super El Nino 2026 diperkirakan menjadi salah satu fenomena iklim paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Meski proyeksi setiap lembaga masih dapat berubah seiring pembaruan data atmosfer dan laut, berbagai peringatan yang telah disampaikan menunjukkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini.

Bagi Indonesia, kesiapan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko terhadap sektor pertanian, sumber daya air, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. Dengan memantau informasi resmi dari lembaga meteorologi dan pemerintah, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.


Berita Terkait


News Update