Sosiolog Sebut Penyuka Sesama Jenis Sulit Cari Pasangan, Rentan Konflik

Kamis 06 Agu 2026, 22:32 WIB
Ilustrasi pasangan gay di Kota Depok. (Sumber: Magnific)
Ilustrasi pasangan gay di Kota Depok. (Sumber: Magnific)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sosiolog Kriminalitas Soeprapto menyebut penyuka sesama jenis umumnya lebih sulit mendapatkan pasangan yang sama-sama memiliki ketertarikan. Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa cemburu dan posesif yang tinggi hingga berpotensi memicu konflik dalam hubungan.

Sebelumnya seorang pria bernama Saepul alias Saepullah, 26 tahun membunuh dan memutilasi pria kenalannya bernama Kunaefi, 51 tahun di Pancoran Mas, Depok. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara pelaku diduga anggota sebuah komunitas gay berdasarkan hasil pemeriksaan saksi dan analisis terhadap telepon genggam miliknya.

Berdasarkan pengalaman akademisnya, Soeprapto menjelaskan penyuka sesama jenis cenderung memiliki rasa cemburu dan sifat posesif yang tinggi. Hal itu, menurutnya, dipengaruhi oleh sulitnya menemukan pasangan yang sama-sama memiliki ketertarikan sehingga ketika muncul tanda-tanda akan ditinggalkan, konflik dapat berkembang menjadi kekerasan.

"Para penyuka sesama jenis ini memiliki sifat cemburu dan posesif yang besar. Alasannya, untuk mendapat pasangan sesama jenis yang sama-sama suka itu tidak mudah, sehingga jika ada gejala akan ditinggalkan maka biasanya bereaksi keras sampai ke penganiayaan," kata Soeprapto kepada Poskota, Kamis, 6 Agustus 2026.

Baca Juga: Anjing Pelacak Dikerahkan Cari Potongan Kaki Korban Mutilasi di Pancoran Mas

Meski demikian, ia menegaskan analisis tersebut bukan merupakan kesimpulan atas kasus mutilasi di Depok. Menurutnya, masih terlalu dini untuk memastikan motif karena proses investigasi, penyelidikan, dan penyidikan oleh kepolisian masih berlangsung.

"Sebetulnya terlalu dini untuk menganalisis kasus mutilasi di Depok. Namun sambil menunggu hasil investigasi, penyelidikan, dan penyidikan polisi, saya bisa menyampaikan beberapa hal berdasarkan pengalaman saya meneliti, mewawancarai, dan menerapi para penyuka sesama jenis," ujarnya.

Jika hubungan tidak dilandasi rasa saling cinta, penolakan juga dapat berlangsung keras. Dalam sejumlah kasus yang pernah dipelajarinya, penyelesaian hubungan terkadang dilakukan melalui kesepakatan berbayar jika tidak ada perasaan saling suka.

"Sebaliknya jika di antara mereka tidak terjalin rasa saling mencintai atau menyukai, maka penolakannya pun akan keras juga. Jika tidak ada rasa saling suka maka biasanya disolusi dengan membuat kesepakatan berbayar," ucapnya.

Baca Juga: Tersangka Mutilasi Depok Diduga Tergabung Komunitas Gay, Motif Masih Didalami

Soeprapto juga menilai motif pembunuhan dalam relasi sesama jenis umumnya bukan ingin menguasai harta korban. Menurutnya, kasus pembunuhan dengan motif tersebut relatif jarang ditemukan berdasarkan pengamatannya.

"Sangat jarang bahwa para gay atau homoseksual atau waria saling menyakiti atau bahkan membunuh dengan motif menguasai harta bendanya. Kalau ada pun persentasenya sangat kecil," tuturnya.

Terkait kasus mutilasi di Depok, Soeprapto menduga peristiwa itu lebih mengarah pada aksi spontan setelah terjadi pertengkaran. Namun, ia menegaskan pandangan tersebut hanyalah analisis berdasarkan kronologi yang telah dipublikasikan dan bukan kesimpulan akhir mengenai motif maupun jalannya peristiwa.

"Saya agak berbeda dengan polisi yang menyatakan merupakan pembunuhan berencana. Saya menangkapnya sebagai aksi spontan, terlihat dari pelaku yang mengambil pisau dapur setelah cekcok," pungkasnya.


Berita Terkait


News Update