TANGERANG, POSKOTA.CO.ID - Ratusan warga Desa Kosambi Dalam, Kecamatan Mekar Baru, Kabupaten Tangerang, mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang yang menyebabkan sumur-sumur warga mengering. Kondisi tersebut membuat masyarakat bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari pemerintah maupun membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap kali mobil tangki air bersih datang, puluhan warga terlihat mengantre sambil membawa berbagai wadah, mulai dari drum, galon hingga ember plastik. Petugas turut membantu mengatur antrean dan mengisi wadah milik warga agar pembagian air berlangsung tertib.
Krisis air bersih ini telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir dan diperparah oleh musim kemarau yang menyebabkan sumber air tanah semakin menurun.
Ketua RT setempat, Kustara, mengatakan sedikitnya lebih dari 200 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di Desa Kosambi Dalam.
Baca Juga: Dilantik jadi Jampidsus, Kuntadi Tegaskan Tuntaskan Perkara Besar
Menurutnya, setiap keluarga membutuhkan sekitar 200 liter air per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti memasak, minum, mencuci, dan aktivitas rumah tangga lainnya.
Ia berharap distribusi air bersih dapat terus dilakukan hingga kondisi kembali normal atau hujan turun di wilayah tersebut.
"Selama kekurangan air ini untuk minum, masak dan mencuci sangat sulit. Kebutuhan air untuk per keluarga sekitar 200 liter, di sini ada lebih dari 200 keluarga. Sejak tidak ada air bersih, warga harus membeli air," kata Kustara, Jumat, 24 Juli 2026.
Sumur Warga Mengering, Terpaksa Beli Air Bersih
Salah seorang warga, Surtini, mengaku sumur di rumahnya sudah tidak lagi mengeluarkan air selama beberapa pekan terakhir. Akibatnya, keluarganya sepenuhnya bergantung pada pasokan air bersih dari luar.
Baca Juga: Telan Anggaran Rp9,7 Miliar, Proyek Penataan Situ Cikedal di Pandeglang Tuai Kritik
"Dari minggu kemarin, sumur di rumah sudah sama sekali enggak ngeluarin air," ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami banyak warga lainnya yang kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga lainnya, Suhernah, mengatakan dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan setiap hari untuk membeli air bersih karena sumber air terdekat berada cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Menurutnya, satu gerobak air bersih dijual seharga Rp25 ribu, dan dalam sehari keluarganya membutuhkan sedikitnya satu gerobak.
"Harus beli air bersih, satu gerobak Rp25 ribu. Sehari bisa beli satu gerobak. Sebenarnya di sebelah sana ada air, tapi jaraknya jauh. Di sini kalau kemarau panjang memang sering kekeringan, airnya enggak keluar," katanya.
Warga berharap pemerintah terus menyalurkan bantuan air bersih selama musim kemarau berlangsung sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan yang hampir setiap tahun melanda wilayah tersebut.
