Hari Anak Nasional, IHDC Soroti Ancaman Beban Kognitif Senyap pada Anak Indonesia

Kamis 23 Jul 2026, 20:31 WIB
Ilustrasi Anak (Sumber: Wikimedia Commons)
Ilustrasi Anak (Sumber: Wikimedia Commons)

POSKOTA.CO.ID - Peringatan Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa kesehatan anak tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan fisik. Ada persoalan lain yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu kemampuan kognitif yang berperan penting dalam proses belajar dan perkembangan anak.

Indonesia Health Development Center (IHDC) menyoroti fenomena yang disebut sebagai silent cognitive burden atau beban kognitif senyap. Istilah ini merujuk pada berbagai masalah kesehatan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dialami oleh jutaan anak dapat berdampak terhadap kemampuan berpikir dan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.

Temuan tersebut disampaikan dalam Seri Kajian Strategis IHDC yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi. Kajian dilakukan melalui rapid review terhadap sejumlah penelitian internasional dan kemudian divalidasi melalui Expert Validation Meeting.

Proses validasi melibatkan sejumlah ahli dari berbagai bidang, mulai dari kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.

Dari kajian tersebut, IHDC mengidentifikasi empat persoalan kesehatan yang memiliki kaitan dengan perkembangan kemampuan kognitif anak usia sekolah.

"Diperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi," kata Ray dalam paparannya di Jakarta, Kamis (23/7).

Ia juga menyebut data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.

Baca Juga: InJourney Hospitality Kelola 120 Hotel BUMN, Kini jadi Operator Hotel Terbesar Kedua di Indonesia

Empat Masalah Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Menurut kajian IHDC, persoalan kesehatan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak. Berikut empat masalah yang menjadi perhatian:

1. Gangguan refraksi yang tidak terkoreksi

Anak yang mengalami gangguan penglihatan dan tidak mendapatkan penanganan dapat kesulitan membaca atau melihat tulisan di papan kelas. Kondisi ini berpotensi menghambat proses belajar. Padahal, masalah tersebut relatif dapat diintervensi melalui pemeriksaan mata dan penggunaan kacamata yang sesuai.

2. Defisiensi zat besi

Kekurangan zat besi tidak hanya berkaitan dengan anemia. Pada anak yang sedang tumbuh, kondisi ini juga dapat berhubungan dengan fungsi otak, konsentrasi, dan kemampuan mengingat.

3. Defisiensi protein

Asupan protein yang kurang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Dalam jangka panjang, kecukupan nutrisi juga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan otak dan sistem saraf anak.

4. Gangguan perilaku

Gangguan perilaku, termasuk kecemasan, dapat membuat anak kesulitan berkonsentrasi dan berinteraksi. Jika tidak dikenali sejak awal, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi proses belajar dan perkembangan kemampuan kognitif.

Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Nila F. Moeloek, menilai persoalan ini perlu dipandang lebih luas. Menurutnya, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh anak secara individual.

"Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila.

Baca Juga: Apakah Beasiswa Unggulan 2026 Sudah Dibuka 23 Juli? Ini Faktanya

Beban Kognitif Anak Perlu Dicegah Sejak Dini

Kajian IHDC menunjukkan bahwa menjaga kemampuan kognitif anak membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan, pemenuhan nutrisi, perhatian terhadap kesehatan mental, serta dukungan lingkungan belajar perlu berjalan beriringan.

Persoalan yang tampak kecil pada satu anak bisa memiliki dampak berbeda ketika terjadi secara luas. Karena itu, momentum Hari Anak Nasional dapat menjadi kesempatan untuk melihat kesehatan anak bukan sekadar dari sisi fisik, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk belajar, berpikir, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.


Berita Terkait


News Update