Asupan protein yang kurang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Dalam jangka panjang, kecukupan nutrisi juga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan otak dan sistem saraf anak.
4. Gangguan perilaku
Gangguan perilaku, termasuk kecemasan, dapat membuat anak kesulitan berkonsentrasi dan berinteraksi. Jika tidak dikenali sejak awal, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi proses belajar dan perkembangan kemampuan kognitif.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Nila F. Moeloek, menilai persoalan ini perlu dipandang lebih luas. Menurutnya, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh anak secara individual.
"Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila.
Baca Juga: Apakah Beasiswa Unggulan 2026 Sudah Dibuka 23 Juli? Ini Faktanya
Beban Kognitif Anak Perlu Dicegah Sejak Dini
Kajian IHDC menunjukkan bahwa menjaga kemampuan kognitif anak membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan, pemenuhan nutrisi, perhatian terhadap kesehatan mental, serta dukungan lingkungan belajar perlu berjalan beriringan.
Persoalan yang tampak kecil pada satu anak bisa memiliki dampak berbeda ketika terjadi secara luas. Karena itu, momentum Hari Anak Nasional dapat menjadi kesempatan untuk melihat kesehatan anak bukan sekadar dari sisi fisik, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk belajar, berpikir, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.
