AHY Dorong Deregulasi BMTH Benoa, Percepat Bali jadi Gerbang Wisata Bahari Internasional

Rabu 22 Jul 2026, 11:24 WIB
Potret Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),  saat meninjau kawasan BMTH di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Selasa, 21 Juli 2026. (Sumber: Istimewa)
Potret Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau kawasan BMTH di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Selasa, 21 Juli 2026. (Sumber: Istimewa)

POSKOTA.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong percepatan deregulasi, penataan ruang, serta penataan aktivitas kepelabuhanan untuk mempercepat pengembangan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) di Pelabuhan Benoa, Bali.

Langkah ini ditujukan untuk memperkuat posisi BMTH sebagai gerbang wisata bahari internasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor pariwisata Indonesia.

AHY menegaskan, transformasi BMTH tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan penyempurnaan regulasi, sinkronisasi tata ruang, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Menurutnya, hal tersebut penting untuk menarik investasi, meningkatkan kunjungan wisatawan berkualitas, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Baca Juga: Sosok Pengganti Nanik S Deyang Siapa? Ini Petunjuk yang Diungkap Kepala BGN usai Mengundurkan Diri

"Di lokasi ini tengah dibangun kawasan, fasilitas, dan ekosistem yang akan mendukung berkembangnya wisata bahari Indonesia," ujar AHY saat meninjau kawasan BMTH di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Selasa, 21 Juli 2026.

BMTH Diproyeksikan jadi Pusat Wisata Bahari Asia Tenggara

AHY mengatakan Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat wisata bahari dunia karena merupakan negara kepulauan terbesar. Bali, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata internasional, dinilai memiliki peluang besar berkembang sebagai pusat aktivitas yacht dan kapal pesiar di Asia Tenggara apabila didukung regulasi yang adaptif, tata ruang yang terintegrasi, dan infrastruktur yang memadai.

BMTH dirancang sebagai kawasan marina modern yang mampu menampung hingga 188 yacht, termasuk super yacht dan mega yacht. Selain itu, kawasan ini juga disiapkan untuk melayani hingga lima kapal pesiar berukuran besar.

Tak hanya marina, kawasan BMTH akan dilengkapi dengan pusat hiburan, area komersial, ruang terbuka hijau, taman publik, serta berbagai fasilitas pendukung guna menghadirkan pengalaman wisata bahari berkelas dunia.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 22 Juli 2026 Naik Tipis, Kembali Dijual Rp2,2 Jutaan per Gram

Menurut AHY, keberadaan wisatawan kapal pesiar dan yacht akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena mereka umumnya tinggal lebih lama di suatu destinasi.

"Para wisatawan ini bukan hanya datang untuk singgah. Mereka bisa tinggal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Artinya, mereka akan berbelanja, menggunakan berbagai layanan, dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat Bali," jelasnya.

Untuk mempercepat pengembangan BMTH, pemerintah saat ini mengoordinasikan penyelesaian sejumlah isu strategis, mulai dari deregulasi layanan marina dan kapal pesiar, integrasi layanan lintas instansi, percepatan penyesuaian tata ruang, hingga penataan kawasan Pelabuhan Benoa.

Langkah tersebut dilakukan agar BMTH memiliki kepastian regulasi sekaligus mampu bersaing sebagai destinasi wisata bahari internasional.

Baca Juga: Apple Naikkan Harga iCloud Plus di Indonesia, Paket 12 TB Kini Rp1,19 Juta per Bulan

Salah satu upaya yang dilakukan adalah penataan aktivitas kepelabuhanan melalui relokasi bertahap kapal-kapal perikanan menuju Pelabuhan Perikanan Pengambengan yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kebijakan tersebut diharapkan membuka ruang bagi optimalisasi kawasan marina, meningkatkan keselamatan pelayaran, memberikan kenyamanan bagi wisatawan, serta memperkuat daya saing BMTH sebagai pusat wisata bahari.

AHY Tekankan Pembangunan BMTH Berbasis Keberlanjutan

AHY menegaskan percepatan pembangunan BMTH harus tetap mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan hidup dan budaya Bali.

"Karena itu, seluruh proses pembangunan BMTH akan mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability), memperhatikan aspirasi masyarakat, serta berjalan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)," paparnya.

Ia menambahkan, keberhasilan BMTH tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, membuka lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim.

"Mengapa tidak jika visinya menjadikan kawasan ini sebagai salah satu marina terbesar dan terbaik di Asia Tenggara? Indonesia sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar sudah sepatutnya menjadi hub sekaligus pusat wisata bahari yang mendunia," tutur AHY.

Dalam kunjungan tersebut, AHY juga menerima pemaparan mengenai progres pengembangan BMTH, meliputi percepatan deregulasi, penyesuaian tata ruang, pengembangan kawasan marina, serta rencana relokasi aktivitas perikanan sebagai bagian dari transformasi Pelabuhan Benoa menjadi pusat pariwisata maritim terpadu.


Berita Terkait


News Update