Selain pekerja vokasi, Karp juga menyoroti individu neurodivergent sebagai kelompok yang memiliki potensi besar di era AI.
Neurodivergent merupakan istilah yang mencakup individu dengan pola pikir dan cara memproses informasi yang berbeda, seperti penyandang autisme, ADHD, maupun disleksia.
Menurut Karp, karakteristik tersebut memungkinkan mereka menghadirkan sudut pandang unik serta solusi yang tidak konvensional dalam menyelesaikan berbagai tantangan.
Kemampuan berpikir di luar pola umum inilah yang dianggap menjadi nilai tambah ketika AI semakin banyak digunakan dalam dunia kerja.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Hp Gaming Infinix Rp3 Jutaan, Main Game Auto Ngebut
AI Diperkirakan Mengubah Pasar Tenaga Kerja
Pernyataan tersebut muncul ketika berbagai lembaga mulai memperingatkan dampak AI terhadap lapangan pekerjaan.
Laporan Senat Amerika Serikat pada Oktober 2025 memperkirakan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, berpotensi menghilangkan hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Tak hanya menggantikan pekerjaan yang sudah ada, laporan tersebut juga mengingatkan bahwa AI dapat memperlambat munculnya lapangan kerja baru sehingga menciptakan tantangan besar bagi pasar tenaga kerja untuk beradaptasi.
Generasi muda yang baru memasuki dunia kerja diperkirakan menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampak perubahan tersebut.
Baca Juga: HP Gaming 2 Jutaan Paling Worth It Juli 2026, Performa Ngebut Harga Bersahabat
Sementara itu, sektor yang masih mengandalkan tenaga manusia secara langsung dinilai memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap otomatisasi.
Peneliti Nilai Dampak AI Masih Akan Terus Berkembang
Di sisi lain, penelitian dari Anthropic menunjukkan bahwa pemanfaatan AI saat ini baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensi teknologi tersebut.
