Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Ini kata Ketua DPR, Puan Maharani menyoroti maraknya sekolah yang kekurangan murid pada sejumlah daerah.
Seperti ramai diberitakan, fenomena minimnya peserta didik baru pada tahun ajaran baru 2026/2027 yang baru pekan ini dimulai terjadi di beberapa daerah seperti di SDN Purwosari 01, Kota Semarang, Jawa Tengah yang hanya menerima tiga siswa baru.
Hal serupa terjadi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, sekitar 60 sekolah masih kekurangan siswa baru hingga berakhirnya masa Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mitra Ancam Gembok Dapur MBG
Terkait kondisi tersebut, Ketua DPR meminta pemerintah melalui kementerian terkait mengevaluasi dan menata ulang pelayanan pendidikan. Meski begitu, Puan meminta pemerintah terlebih dahulu memetakan penyebab fenomena tersebut sebelum menentukan langkah agar kebijakan yang diambil sesuai kondisi lapangan.
“Maksudnya kekurangan siswa baru ini jangan digeneralisir bahwa kondisi itu terjadi di semua daerah, merupakan gejala umum secara nasional ya,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Boleh jadi itu hanya kasuistik pada daerah tertentu. Di tempat lain, malah kelebihan murid, sampai sekolah meminta maaf karena daya tampung terbatas, sementara peminat membludak,” tambah Yudi.
“Bicara soal kekurangan murid baru sebenarnya bukan kali ini, lima tahun lalu misalnya di sebuah kabupaten banyak sekolah yang kekurangan murid pada tahun ajaran baru. Penyebabnya, salah satu di antaranya adanya sistem zonasi yang menyebabkan sekolah di daerah pinggiran, jauh dari permukiman kurang peminat,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Kasus Jampidsus Disorot Asing
“Itu dulu Bro. Sekarang beda lagi, persoalannya bukan karena sistem zonasi, mungkin anak – anak yang memasuki usia sekolah SD , jumlahnya sedikit. lebih rendah dari daya tampung SDN setempat atau peminat sekolah di SDN yang rendah?” kata Yudi.
“Jangan menduga – duga, yang pasti cukup banyak faktor penyebabnya.Bisa karena penurunan jumlah anak usia sekolah, perpindahan penduduk, distribusi sekolah yang tak sesuai lagi dengan perkembangan permukiman penduduk, bisa juga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri,” jelas mas Bro.
“Masalah faktor penyebab itulah yang sekarang sedang dievaluasi oleh kementerian terkait bersama Kemendagri dan daerah setempat. Hasil evaluasi akan dijadikan pedoman mengambil kebijakan,” kata Heri.
“Semoga kekurangan murid baru bukan semata karena menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas sekolah negeri ya. Jika ini yang terjadi, menjadi alarm bagi dunia pendidikan,” ujar mas Bro.
“Jadi tantangan yang dihadapi, bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Kini eranya kualitas. Fakta masyarakat lebih memilih sekolah favorit, unggulan ketimbangan yang biasa – biasa saja, kecuali terpaksa,” ujar Heri.
