POSKOTA.CO.ID - Pemerintah mulai menerapkan biodiesel B50 pada Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat bauran energi baru terbarukan. Seiring kebijakan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan telah menyiapkan langkah lanjutan melalui pengembangan teknologi biodiesel B100 berbasis minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari strategi hilirisasi komoditas sawit agar tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah.
Tetapi sawit harus diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, termasuk bahan bakar nabati yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
"Kita tidak boleh hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Sawit harus dihilirisasi sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Amran dalam keterangannya, Kamis, 9 Juli 2026.
Baca Juga: Kementan Optimalkan Irigasi Alsintan dan Budidaya Padi IP 400
Menurut Amran, komitmen tersebut telah diwujudkan melalui pemanfaatan CPO sebagai bahan baku bioenergi dengan alokasi sekitar 5,3 juta ton untuk memenuhi kebutuhan biofuel dalam negeri.
Seiring implementasi B50, kebutuhan biodiesel nasional diperkirakan mencapai sekitar 17,6 juta kiloliter sepanjang 2026, sekaligus berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun per tahun karena berkurangnya impor solar.
Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Direktorat Jenderal Perkebunan, serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian mengembangkan teknologi bioreaktor yang mampu mengolah CPO menjadi biosolar B100.
Baginya, inovasi tersebut merupakan salah satu kontribusi sektor pertanian dalam mendukung transisi energi nasional yang berbasis sumber daya domestik.
Baca Juga: Dugaan Kasus Pemerasaan oleh Pimpinan KPK Terjadi di Kementan Tahun 2021, Begini Kronologisnya
"Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," jelas Fadjry.
Fadjry menilai modernisasi pertanian tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi di tingkat budidaya.
Menurutnya, hasil pertanian dan perkebunan juga harus mampu diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Inovasi seperti bioreaktor CPO menjadi B100 adalah contoh nyata bagaimana riset dan teknologi dapat menjawab kebutuhan energi nasional,” tuturnya.
Teknologi bioreaktor tersebut diperkenalkan kepada publik pada ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, bersama inovasi hilirisasi lain seperti teknologi produksi Virgin Coconut Oil (VCO) metode kering dan produk turunan kelapa.
Seluruh inovasi itu dikembangkan agar dapat dimanfaatkan petani, koperasi, dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing sektor perkebunan.
"Kami ingin memastikan bahwa inovasi tidak berhenti di laboratorium atau pameran, tetapi benar-benar sampai dan dapat diadopsi oleh petani di lapangan," beber Fadjry
Selanjutnya, Fadjry mengatakan, hilirisasi harus menjadi gerakan bersama agar komoditas perkebunan Indonesia mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Kata dia, langkah tersebut juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing sektor perkebunan sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
