Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Dulu kita mengenal istilah doyan makan semen, pasir,batu dan aspal. Ini sindiran yang diberikan kepada para koruptor dengan modus mengurangi standar kualitas proyek pembangunan infrastruktur.
Standar tak sesuai kualitas karena anggaran sudah dipotong sekian persen berupa fee sebagai kompensasi agar proyek berjalan mulus.
Kini, korupsi tak hanya terkait proyek pembangunan fisik, tetapi sudah meluas hingga ke sumber daya alam.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Dasco Ucapkan Ultah ke Nadiem, Ada Apa?
Belakangan sektor sumber energi pun sudah dikorupsi dengan kerugian negara yang lebih besar lagi hingga ratusan triliun rupiah seperti diungkap Kejaksaan Agung yang menangani kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang minyak di Pertamina awal tahun 2025.
Seperti ramai diberitakan, salah satu modus yang diungkap adalah pengoplosan komoditas BBM beroktan tinggi dengan kualitas rendah, kemudian dipasarkan ke publik dengan harga beroktan tinggi.
“Sempat viral, produk BBM tersebut ditinggalkan konsumen yang beralih ke produk sejenis yang dikelola pihak swasta,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Teranyar, perkara tindak pidana korupsi, pencucian uang terkait pemenuhan pasokan batu bara pada sejumlah PLTU selama periode tahun 2018 – 2026 yang sedang ditangani Kortas Tipikor Polri dengan kerugian negara ditaksir Rp6 triliun,” tambah Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tugas Mulia Ibu – Ibu Srikandi Jaga Desa
“Dampak penyimpangan rantai pasok batu bara ini diindikasikan menjadi salah satu pemicu terjadinya blackout (pemadaman listrik) di Sumatera dan sejumlah wilayah Indonesia,” urai mas Bro.
“Wah, berarti pemadaman bergilir yang kerap terjadi bulan lalu, karena tersendatnya pasokan batu bara ke sejumlah PLTU yang berdampak merosotnya jumlah pasokan listrik ke publik ya,” kata Heri.
“Mungkin karena pasokan sumber listrik tersendat, maka perlu adanya manajemen penyeimbangan beban agar distribusi listrik tetap survive. Itu bahasa orang awam seperti kita ini,” kata mas Bro.
“Itu dulu, sekarang nggak ada lagi pemadaman bergilir. Kondisi sistem kelistrikan, khususnya di Pulau Jawa sudah kembali normal. Itu jaminan petinggi PLN sejak 21 Juni lalu,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Wacana Jawa Barat Menjadi Tatar Sunda
“Dapat diduga sejak penyimpangan pemenuhan batu bara terungkap, pasokan ke PLTU kembali normal, produksi pun kembali lancar ya,” ujar Yudi.
“ Korupsi di sektor sumber energi, terlebih komoditas vital seperti batu bara, minyak dan gas, tak hanya merugikan keuangan negara, tetapi berdampak sangat luas, kerugian langsung dirasakan oleh masyarakat,” urai mas Bro.
“Yang korupsi apa nggak mikir ke sana ya?” tanya Heri.
“Korupsi kok mikir, yang dipikir bagaimana segera dapat keuntungan berlipat -lipat,”celatuk Yudi.
